Caption : Supriyadi (istimewa)
Rabu, 29 April 2015 17:05 WIB Aries Susanto/JIBI/Siolopos Madiun Share :

DIFABEL
Supriyadi: Keterbatasan Itu Harus Kita Lawan...

Difabel alias perbedaan kemampuan yang dimiliki setiap orang bukanlah sebuah kutukan. Supriyadi, penyandang difabel asal Madiun ini melawan keterbatasan fisiknya dengan caranya sendiri.

Jatengpos.com, Madiun – Supriyadi sama sekali tak pernah berkeinginan dilahirkan dengan keterbatasan fisik seperti saat ini. Kedua kakinya lumpuh sejak kecil. Satu-satunya kekuatan yang membuatnya bergerak lincah seperti saat ini ialah kemauan dan harapannya. Dari situlah, warga Dusun Bagi Selatan, Desa Bagi, Kecamatan Madiun, ini menganyam asa setiap hari melalui kemampuannya.

Ya, Supriyadi adalah seorang lelaki sepuh yang mengalami keterbatasan fisik. Ke mana-mana, ia hanya mengandalkan kedua tangannya untuk mengayuh sepeda roda tiga. Di rumahnya, kakek 65 tahun ini membuka usaha jasa menjahit serta membuka warung kecil-kecilan.

“Sejak usia 3 tahun, saya lumpuh,” ujar Supriyadi saat berbincang dengan Madiun Pos, Selasa (28/04/2015).

Siang itu, ketika berbincang dengan Madiun Pos, Supriyadi tengah mengantre mengambil jatah Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) di Balai Desa Bagi, Kecamatan Madiun. Ia ningkrang di atas sepeda usang roda tiga yang ia modivikasi itu. Baju hem putih lengan pendek terbaiknya ia kenakan. Bawahannya, ia padu celana panjang warna cokelat serta memakai topi pelindung kepala.

Ia pun berkisah panjang tentang aktivitasnya sehari-hari di tengah keterbatasan fisiknya. Mulai usahanya menjahit pakaian, hingga aktivitasnya berjualan dan kulakan di pasar setiap hari. Ia yakin bahwa cacat fisik bukanlah alasan seseorang untuk berpangku tangan dan mengharap belas kasihan orang lain.

“Yang penting kita masih semangat dan mau berusaha,” jelasnya.

Sekadar untuk kulakan barang, Supriyadi mengaku harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk ukuran dirinya. Maklum saja, Supriyadi ke mana-mana hanya mengandlkan sepeda kayuh yang telah usang, bukan sepeda motor yang bisa meluncur kencang sekali tarik gas.

“Kira-kira 5 kilometer dugi griyo [dari rumah] sampai peken [pasar],” ujarnya.

Orang seperti Supriyadi adalah potret orang kecil pantang menyerah. Baginya, hidup tak ada yang layak disesali. Hidup, katanya, harus terus berputar dan berjalan ke depan. Dan keterbatasan adalah kenyataan yang harus ditaklukkan.

“Keterbatasan itu harus kita lawan, jangan nyerah begitu saja,” tegas Priyadi.

Sekadar diketahui, sepeda Supriyadi tak selayaknya sepeda. Sepeda yang konon pemberian kerabat dekatnya itu telah usang. Ia pun memodifikasinya sedemikian rupa agar dirinya yang tak bisa berjalan itu bisa memakainya. Dan keman-mana, sepeda itulah yang menemainya.

Bentuknya cukup unik memang. Pedalnya bukan di bawah,melainkan di atas menyatu dengan tempat duduk. Bentuk setirnya pun juga unik; bundar seperti setir mobil. Di atas sepedanya itu, ia simpan kruk untuk bantu jalan.

“Sepeda ini ngayuhnya pakai tangan,” jelasnya.(Geddy P/JIBI/Madiunpos.com)

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply