Andri Saptono (Istimewa) Caption : Andri Saptono (Istimewa)
Rabu, 29 April 2015 06:40 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Ekonomi Kreatif Melawan Bank Plecit

Gagasan Solopos, Senin (27/4/2015), ditulis Andri Saptono. Penulis adalah pengkaji masalah sosial kemasyarakatan dan saat ini aktif di Pakagula Sastra Karanganyar.

Jatengpos.com, SOLO — Istilah bank plecit atau lintah darat dulu lebih masyhur daripada debt collector. Bank plecit ini biasa berkeliling di desa-desa, menawarkan pinjaman dengan cepat dan tanpa administrasi yang ribet, cukup dengan jamiman fotokopi kartu tanda penduduk (KTP).

Penampilan bank plecit nyaris jadi stereotip sampai sekarang. Bersepeda motor dan berjaket kulit, bertas slempang, sambil membawa buku kecil daftar tagihan kepada para nasabahnya.

Biasanya mereka lebih suka menemui kaum ibu yang bergerombol, entah sedang petan tuma atau sekadar nangga. Begitulah realitas yang terjadi di desa saya dan beberapa desa lain di Karanganyar.

Desa menjadi tujuan bank plecit beroperasi. Seperti di desa saya, sasaran utama mereka adalah kaum ibu dari kalangan menengah ke bawah. Bank plecit ini menawarkan pinjaman uang dengan cara cepat dan tidak berbelit-belit tetapi dengan bunga yang mencekik leher.

Para ibu yang merasa butuh dana atau kesulitan keuangan dengan mudah menerima pinjaman yang berbunga tinggi ini dan dengan demikian masuk menjadi nasabah para ”setan kredit” itu.

Bank plecit hanya mencari keuntungan dan membuat uangnya beranak pinak. Mungkin ada pertanyaan mengapa bank plecit memilih desa?

Penghuni desa adalah masyarakat yang berpendidikan rendah dan tingkat ekonomi yang sering kali kesingsal dengan perubahan zaman. Keadaan ini dimanfaatkan bank plecit untuk memperbanyak nasabah alias menjerat korbannya.

Relasi antara bank plecit dan nasabah bukanlah sama-sama menguntungkan (simbiosis mutualisme), apalagi dengan keyakinan hendak menolong. Bank plecit itu menjerat nasabah dengan gaya hidup suka berutang.

Mereka tak peduli dengan persoalan tolong-menolong atau orang yang kesusahan. Tak jarang bank plecit mengancam hingga menganiaya nasabah jika ada kredit macet. Kaum ibu yang terjerat utang ini sering kali tanpa persetujuan suami, dan berakibat menyalakan keributan di rumah tangga.

Tersebab utang kepada rentenir inilah hampir terjadi perceraian karena suami kaget ternyata istrinya berutang di dan nilainya tak sedikit. Solopos pernah mencatat fenomena ini di Desa Jambon, Gamping, Sleman, DIY.

Di desa itu ada yang memasang pengumuman dengan tulisan “Bank Plecit Dilarang Masuk di Kampung Ini”. Pengumunan ini muncul karena dampak negatif aktivitas bank plecit yang  masuk ke desa tersebut.

Fenomena senada juga muncul di Dusun Tiken, Desa Pulutan Wetan, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri. Di dusun itu ada pengumuman berwujud poster dengan tulisan “Bang [semestinya ditulis ’Bank’] Plecit Dilarang Masuk. Kesepakatan Bapak-Bapak dan Karang Taruna Dusun Tiken”.

Dalam buku sekolah dan prosa sering disinggung lintah darat. Novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli mengetengahkan karakter Datuk Maringgih sebagai seorang rentenir licik.

Pekerjaan sebagai bank plecit atau rentenir umumnya dibenci dan dianggap sebagai pengganggu ketenteraman dalam masyarakat. Kehadiran mereka seakan hendak memangsa orang yang lengah. Barangkali seperti serigala yang hendak menjerat mangsanya.

Paradigma bank plecit atau lintah darat sekarang mengalami pleonasme menjadi debt colector. Hal ini barangkali seperti pelacur menjadi pekerja seks komersial. Pengumuman lowongan debt colector (bank plecit) sering kali muncul di iklan koran dan ikut bersaing dengan bursa lowongan kerja.

Jika dikaji dengan kacamata agama, jelas bank plecit ini haram hukumnya. Selain mereka berpraktik menghimpun riba, mereka juga mencekik leher para nasabah.

Masyarakat yang awalnya antipati dengan bank plecit kini seolah-olah dibisiki bahwa sekarang bank plecit adalah koperasi simpan pinjam yang memudahkan berutang. Ada juga sosialisasi bahwa sekarang tidak ada riba, tetapi bunga atau uang administrasi. [Persoalan Masyarakat]

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply