Caption : Pengacara duo Bali Nine Julian McMahon (kiri) dan seorang staf kedubes Australia, menunjukkan lukisan yang dibuat oleh terpidana mati Myuran Sukumaran, di dermaga penyeberangan Wijaya Pura, Cilacap, Jateng, Sabtu (25/8/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Idhad Zakaria)
Selasa, 28 April 2015 16:00 WIB JIBI/ Solopos/ Antara Peristiwa Share :

HUKUMAN MATI
Inilah Pesan Terakhir Para Terpidana Mati Sebelum Dieksekusi

Hukuman mati terhadap sembilan terpidana kasus narkoba tinggal menunggu waktu.

Jatengpos.com, CILACAP — Terpidana mati kasus narkoba asal Australia, Myuran Sukumaran, menyampaikan terima kasih kepada Indonesia karena telah memberi kesempatan untuk menjadi lebih baik.

“Myuran berpesan kepada saya, terima kasih Indonesia yang telah memberi kesempatan kepada kami [Myuran Sukumaran dan Andrew Chan] untuk merehabilitasi menjadi lebih baik dan tetaplah berjuang untuk menghapus hukuman mati,” kata kuasa hukum duo Bali Nine, Todung Mulya Lubis, dalam bahasa Inggris di Dermaga Wijayapura, Cilacap, Selasa.

Todung Mulya Lubis mengatakan hal itu kepada wartawan seusai mengunjungi terpidana mati duo “Bali Nine”, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, yang sedang menjalani masa isolasi di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Besi, Pulau Nusakambangan, Cilacap.

Saat ini, semua pihak sedang menunggu eksekusi yang diperkirakan akan dilaksanakan pada Selasa (28/4/2015) malam atau Rabu (29/4/2015) dini hari. Kendati demikian, dia mengatakan bahwa Myuran Sukumaran dan Andrew Chan tidak pernah minta dibebaskan.

Dalam kesempatan tersebut, Todung Mulya Lubis menunjukkan empat lukisan hasil karya Myuran Sukumaran yang dibuat di dalam LP Besi, Nusakambangan. Keempat lukisan yang dibuat menggunakan dua media berbeda itu terdiri atas dua potret diri Myuran dan satu bergambar jantung yang dilukis pada kanvas. Selain serta gambar berwarna merah-putih dengan guratan darah yang dilukis pada selembar tripleks.

Menurut Todung, lukisan bergambar jantung mengandung arti satu rasa, satu hati, di dalam cinta. “Dia [Myuran] adalah pelukis yang baik,” katanya.

Di balik lukisan bergambar jantung itu terdapat tulisan yang ditandatangani delapan dari sembilan terpidana mati yang akan dieksekusi dalam waktu dekat. Terpidana mati yang tidak membubuhkan tanda tangan dan menuliskan pesan di balik lukisan bergambar jantung, yakni Rodrigo Gularte yang selama ini dikabarkan mengalami gangguan jiwa.

Beberapa tulisan terpidana mati yang tertangkap kamera wartawan di antara “Jesus always love Us Until in the Eternal life” yang ditulis oleh Mary Jane Fiesta Veloso. Ada pula tulisan “God Bless Indonesia” yang ditulis oleh Okwudili Oyatanze.

Kejaksaan Agung pada akhir pekan lalu menyatakan bahwa sembilan terpidana mati kasus narkoba itu segera dieksekusi serentak di Pulau Nusakambangan dalam waktu dekat. Mereka adalah Andrew Chan (Australia), Myuran Sukumaran (Australia), Raheem Agbaje Salami (Nigeria), Zainal Abidin (Indonesia), Rodrigo Gularte (Brasil), Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa (Nigeria), Martin Anderson alias Belo (Ghana), Okwudili Oyatanze (Nigeria), dan Mary Jane Fiesta Veloso (Filipina).

Jumlah tersebut berkurang satu orang dari 10 terpidana mati yang masuk daftar eksekusi tahap kedua yang dirilis Kejaksaan Agung beberapa waktu lalu.

Hal itu disebabkan terpidana mati asal Prancis Serge Areski Atlaoui ditarik dari daftar eksekusi tahap kedua karena yang bersangkutan menggugat penolakan grasi oleh Presiden Jokowi ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Dengan demikian, eksekusi terhadap Serge Areski Atlaoui akan dilakukan tersendiri setelah adanya putusan dari PTUN.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply