Warga berdiri di dekat early warning system (EWS) yang dipasang di Selopukang, Sendang, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Kamis (29/9/2016). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos) Caption : Warga berdiri di dekat early warning system (EWS) yang dipasang di Selopukang, Sendang, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Kamis (29/9/2016). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)
Jumat, 30 September 2016 07:10 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

BPBD Wonogiri Sebut 3 Desa di 2 Kecamatan Rawan Tanah Bergerak

BPBD Wonogiri menyatakan tiga lokasi di dua kecamatan berpotensi terjadi tanah bergerak.

Jatengpos.com, WONOGIRI — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri mencatat terdapat tiga lokasi di dua kecamatan di Wonogiri rawan tanah bergerak. Sedikitnya 10 unit rumah rusak akibat tanah retak di lokasi-lokasi itu selama dua tahun terakhir.

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Wonogiri, Dwi Listyo, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Kamis (29/9/2016), menginformasikan tiga lokasi rawan tanah bergerak tersebut yakni dua tempat di Kecamatan Purwantoro meliputi Dusun Bendo, Desa Bakalan dan Dusun Jatisari, Desa Biting.

Satu lokasi di Dusun Ketangi, Desa Sempukerep, Kecamatan Sidoharjo. Dusun Bendo memiliki tingkat kerawanan paling tinggi. Pergerakan tanah di dusun itu terjadi setiap tahun, terutama saat curah hujan tinggi. Sedangkan dua lokasi di Dusun Jatisari dan Ketangi sudah tak didapati pergerakan tanah.

“Kami sudah memasang EWS [early warning system atau alat deteksi bencana] di masing-masing lokasi, awal September lalu. Kalau ada pergerakan tanah EWS akan berbunyi kencang. Itu menandakan warga harus menyelamatkan diri. Jatisari dan Ketangi tetap kami pasang EWS agar warga tetap waspada,” ucap dia.

Dia menjelaskan pergerakan tanah di Dusun Bendo sudah mengakibatkan lima unit rumah warga rusak. Seluruh penghuni rumah sudah berpindah ke lokasi aman. Hal itu dilakukan karena kondisi rumah tak memungkinkan lagi dihuni karena nyaris terbelah sehingga sewaktu-waktu bisa ambruk.

Panjang retakan dari pusat retakan di ladang/tegalan bertekstur seperti perbukitan hingga ujung mengarah ke permukiman yang berada di dataran lebih rendah mencapai 100 meter. Lebarnya kurang lebih 80 cm. Karakteristiknya tanah bergerak semakin ke bawah. Saat ini terdapat satu rumah warga yang terancam terkena dampak karena berada di arah luncuran tanah.

“Pergerakan tanah di Bendo masih aktif. Sewaktu-waktu bisa bergerak, terlebih sekarang mulai hujan lagi,” imbuh Dwi.

Retakan tanah di Jatisari tak jauh dari permukiman. Dari pusat retakan hingga ujung sepanjang sekitar 50 meter membentuk seperti tapal kuda. Lebarnya 15 cm. Satu unit rumah warga miring akibat tanahnya retak. Setidaknya ada tiga unit rumah lainnya yang terancam kena dampak. Retakan tanah di Ketangi berada di tengah permukiman warga. Karakteristik pergerakannya seperti mangkok bergoyang. Pergerakan tanah di lokasi itu mengakibatkan ruangan di empat unit rumah retak. Ruangan yang rusak tak dihuni pemiliknya.

“Pergerakan tanah di dua lokasi tersebut berhenti. Tapi warga harus tetap waspada.”
Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Wonogiri, Aisyah Ekasari, menambahkan sebelum memasang EWS pihaknya menyosialisasikannya terlebih dahulu. Warga diberi tahu sistem kerjanya.

Informasi yang dihimpun Jatengpos.com, Dinas PESDM Wonogiri juga memasang EWS di beberapa lokasi rawan tanah bergerak. Salah satunya di Selopukang, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri. Otoritas Dinas PESDM belum ada yang bisa dimintai penjelasan mengenai wilayah rawan tanah bergerak, karena tidak berada di kantor.

 

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply