Sejumlah petugas saat membersihkan material longsoran dari rumah Jairan di RT 003/RW 004, Dusun Karangrejo, Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, Rabu (28/9/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Caption : Sejumlah petugas saat membersihkan material longsoran dari rumah Jairan di RT 003/RW 004, Dusun Karangrejo, Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, Rabu (28/9/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Rabu, 28 September 2016 17:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

LONGSOR PONOROGO
Jeritan Terakhir Sebelum Tertimbun Tanah Longsoran

Longsor Ponorogo, tanah longsor di Desa Baosan Lor memakan satu orang warga.

Jatengpos.com, PONOROGO—Bencana tanah longsor di Dusun Karangrejo, Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun, menyisakan duka mendalam bagi keluarga Jairan, 50. Istri Jairan, Sunarmi, 45, harus meregang nyawa dengan cara yang tragis, tertimpa reruntuhan material longsoran tanah.

Peristiwa nahas yang menimpa Sunarmi, terjadi pada Rabu (28/9/2016) sekitar pukul 01.00 WIB di rumahnya di RT 003/RW 004, Dusun Karangrejo. Saat itu, Sunarmi dan Jairan terlelap tidur di kamarnya saat hujan mengguyur dengan deras sejak Selasa (27/9/2016) malam.

Hujan beserta angin cukup kencang membuat waswas keluarga itu, karena rumah mereka berada persis di samping tebing. Sebelum peristiwa longsor terjadi, Jairan mengaku sempat mendengar ada tanda-tanda tebing akan longsor. Saat itu juga, Jairan langsung membangunkan istrinya yang masih terlelap tidur.

Namun, tak dinyana-nyana, tebing tersebut langsung longsor dan material tanah langsung menghantam tembok kamar. Sesaat setelah itu, tembok kamar langsung roboh dan menimpa Sunarmi serta material tanah membenamkan tubuh Sunarmi. Jairan yang berada di dekat tembok itu langsung terpental dan tubungnya terpendam material tanah hingga sampai satu meter.

Jairan saat itu masih bisa menyelamatkan diri dan mencoba untuk menolong istrinya. Sunarmi juga masih bisa meminta pertolongan, hingga seluruh badannya tertutup tanah dan batu bata.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan padamnya listrik PLN. Dengan minim pencahayaan, Jairan yang hanya tinggal berdua kesulitan saat hendak menyelamatkan istrinya yang tertimbun material tanah. Jairan dengan perasaan yang kalut bergegas keluar rumah untuk mencari pertolongan ke tetangga.

Dengan dibantu beberapa tetangga, akhirnya tubuh Sunarmi bisa dibawa dari timbunan tanah itu. Perasaan sedikit lega dari Jairan langsung pupus saat melihat istrinya telah menjadi mayat. Nyawa Sunarmi, tidak bisa diselamatkan. Ada bekas luka di bagian dahi dan hidung.

“Saat itu, kami tidur bersama di kamar itu seperti biasa. Saat tertimbun longsoran tanah, istri saya sempat meminta tolong, tetapi akhirnya nyawanya tidak bisa diselamatkan,” ujar Jairan di rumah duka, Rabu (28/9/2016).

Jasad isrtrinya itu kemudian dimakamkan di permakaman umum di desa setempat. Puluhan warga pun terlihat berdatangan untuk menyampaikan duka cita kepada keluarga yang ditinggalkan.

Kepala Desa Baosan Lor, Jarot Trihandono, mengatakan pasangan Jairan dan Sunarmi itu memiliki satu anak. Namun, saat peristiwa itu terjadi, anaknya tidak ada di rumah karena sekolah di Ponorogo.

Jarot mengatakan ini merupakan peristiwa bencana alam paling parah yang pernah terjadi di Desa Baosan Lor, karena memakan korban jiwa. “Kalau dari visum tim medis, Sunarmi meninggal dunia karena tidak bisa bernapas. Karena saat itu, Sunarmi tertimpa batu bata tembok dan material tanah,” jelas dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply