Caption: Pemecah ombak di kawasan pelabuhan Tanjung Adikarto yang banyak dikunjungi wisatawan Pantai Glagah (JIBI/Harianjogja.com/Holy Kartika N.S) Caption : Pemecah ombak di kawasan pelabuhan Tanjung Adikarto yang banyak dikunjungi wisatawan Pantai Glagah (JIBI/Harianjogja.com/Holy Kartika N.S)
Jumat, 31 Maret 2017 21:22 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PELABUHAN TANJUNG ADIKARTO
Pembangunan Ditarget Rampung Bareng NYIA

Pelabuhan Tanjung Adikarto diharapkan segera dibangun.

Jatengpos.com, JOGJA — Pemerintah Daerah (Pemda) DIY melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) DIY mengusulkan anggaran sebesar Rp160 miliar untuk kelanjutan pembangunan Pelabuhan Tanjung Adikarto yang berada di Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kulonprogo. Pelabuhan yang sempat terbengkelai itu rencananya akan dilanjutkan pembangunannya pada 2018 mendatang yang ditarget bisa beroperasi bersamaan dengan New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Baca Juga : PELABUHAN TANJUNG ADIKARTO : Teknologi Geotobe Digunakan, Seperti Apa?

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Sigit Sapto Rahardjo menjelaskan, keberadaan Pelabuhan Tanjung Adikarto akan menjadi strategis seiring dengan adanya NYIA yang ditarget beroperasi 2019. Karena itu, pihaknya akan mengupayakan penyelesaian pembangunan Tanjung Adikarto bersamaan dengan NYIA. Hasil studi ulang telah selesai dilakukan pada akhir tahun lalu. Dalam studi itu dengan anggaran sekitar Rp160 miliar, pelabuhan sudah bisa dimanfaatkan.

“Di dalam studi itu dengan anggaran Rp160 miliar sudah bisa dimanfaatkan. Tinggal pembangunan breakwater [pemecah ombak] itu saja penambahan. Tetapi kalau breakwater itu dikasih pelindung yang lebih kuat lebih idealnya sekitar Rp400 miliar,” terang Sigit, Jumat (31/3/2017).

Kondisi Tanjung Adikarto saat ini, lanjutnya, sudah terbangun pemecah ombak sekitar 120 meter dengan konsep tetrapod. Pemecah ombah itu berbahan beton dengan bentuk empat kaki. Konsep itu akan diubah menjadi geotube, sehingga pemecah ombak tidak lagi menggunakan beton, melainkan berbahan geotekstil. Desain ini selain mampu menekan biaya, juga lebih lentur dan stabil dalam menahan ombak.

“Sekarang yang ada baru 120 meter, kita butuhnya 740 meter [pemecah ombak]. Penambahannya memang sedikit tetapi [butuh] okeh [banyak] duwite [anggaran],” ucap Sigit.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply