Caption : Ilustrasi guru (JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra Kumala) Guru matematika Supriyani mengajar siswa kelas V di SD Negeri Beton, Kampung Sewuse, Solo, Senin (6/1). Sekolah di Solo mulai masuk setelah liburan semester.
Jumat, 30 Juni 2017 20:00 WIB Septhia Ryanthie/JIBI/Solopos Solo Share :

Disdik Solo Belum Wajibkan SD 5 Hari Sekolah

Dinas Pendidikan (Disdik) Solo belum mewajibkan sekolah dasar (SD) menerapkan lima hari sekolah pada tahun ini.

Jatengpos.com, SOLO—Langkah itu disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar (Dikdas) SD Disdik Kota Solo, Wahyono. “Lima hari sekolah untuk sementara baru beberapa SD swasta yang menyatakan siap. Kami belum menerima laporan dari UPT [unit pelaksana teknis] khusus untuk sekolah dasar negeri [SDN],” kata Wahyono, Jumat (30/6/2017).

Terkait turunnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 23/2017 Tentang Hari Sekolah, Wahyono siap menindaklanjutinya. Disdik sudah menyosialisasikannya kepada kepala-kepala SD sekaligus kepala-kepala UPT.

“Dengan adanya Permendikbud ini tentunya sekolah-sekolah diharapkan mempersiapkan diri. Di Solo memang sudah ada yang menerapkan. Yang belum [melaksanakan] diharapkan bersiap-siap,” kata dia.

Wahyono mengakui Disdik belum mewajibkan semua SD menerapkan lima hari sekolah pada tahun ini. Terlebih dalam Permendikbud Pasal 9 Ayat (1) disebut perlunya kesiapan sumber daya sekolah serta akses transportasi yang memadai. Pelaksanaan lima hari sekolah seperti disebut dalam Pasal 7 dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan sekolah.

Menurut Wahyono, tidak ada sanksi untuk sekolah yang belum menerapkan lima hari sekolah mulai tahun pelajaran baru ini. “Ada klausal bahwa kebijakan itu dilaksanakan secara bertahap, menyesuaikan keadaan sekolah. Jadi bagi sekolah yang saat ini sudah melaksanakan ya tinggal melanjutkan. Yang merasa sudah siap dan akan melaksanakan silakan mempersiapkan dan studi banding ke sekolah yang sudah menerapkan. Bagi yang belum bisa tahun ini ya bisa memulai persiapan untuk tahun berikutnya, misalnya berkomunikasi dengan guru dan orang tua siswa,” kata dia.

Wahyono mengharapkan sekolah tidak memaksakan diri. Namun, dia melihat pengaturan jam belajar-mengajar lima hari sekolah relatif mudah. Dia mencontohkan jadwal pelajaran Sabtu bisa dialihkan ke Senin hingga Jumat. Sisa jam dalam satu hari diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler atau lainnya dalam rangka penguatan karakter.

“Kalau memang belum siap ya jangan coba-coba memaksakan, apalagi sampai memaksa orang tua menyetujui program ini. Harus dikomunikasikan lagi termasuk persiapan-persiapannya,” tambah dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply