Caption : Seorang penjual jenang dan wingko babat melayani pembeli di Kampung Randusari, Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo, Kamis (29/6/2017). Oleh-oleh khas Sukoharjo itu diborong pemudik. (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)
Kamis, 29 Juni 2017 13:40 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

LEBARAN 2017
Jenang & Wingko Sukoharjo Diborong Pemudik

Jelang akhir libur Lebaran 2017, jenang dan wingko babat khas Sukoharjo laris diborong pemudik.

Jatengpos.com, SUKOHARJO — Oleh-oleh khas Sukoharjo seperti jenang krasikan, wajik, wingko babat laris manis diborong para pemudik pascaLebaran. Permintaan jenang saat Lebaran 2017 meningkat tiga kali lipat ketimbang hari biasa.

Permintaan jenang saat Lebaran hingga pascaLebaran melonjak tajam ketimbang hari biasa. Para pengrajin jenang bisa memproduksi sekitar 60 potongan jenang/hari. Sementara produksi jenang saat hari biasa hanya sekitar 20 potongan/hari. Artinya, permintaan jenang meningkat lima kali lipat saat Lebaran.

Seorang pengrajin jenang asal Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo, Sukardi, mengatakan tingginya permintaan jenang berimbas pada kenaikan harga jenang saat Lebaran. “Harga wingko babat dan jenang prol senilai Rp70.000/potong. Sementara harga jenang krasikan senilai Rp65.000/potong. Harga jenang tidak naik saat Lebaran,” kata dia, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (29/6/2017).

Menurut Sukardi, mayoritas pemudik sangat menyukai jenang krasikan dan wingko babat. Rasanya yang manis serta tekstur lembut dan kenyal menjadi citarasa penganan khas Sukoharjo. Para pemudik yang hendak kembali ke tanah perantauan kerap memborong jenang untuk oleh-oleh. Puncak permintaan jenang terjadi pada H+1 dan H+2.

Kala itu, ia kewalahan melayani order jenang dari para pembeli. “Mayoritas pesanan memang dari para pemudik seperti Jakarta, Bandung hingga luar Jawa. Namun, ada juga masyarakat lokal yang membeli jenang untuk penganan di rumah saat Lebaran,” papar dia.

Sukardi menceritakan industri jenang di Sukoharjo berdiri sejak puluhan tahun lalu. Kala itu, jumlah pengrajin jenang mencapai ratusan orang. Mereka memproduksi jenang di rumah setiap hari. Lambat laun, jumlah pengrajin jenang berkurang lantaran tak sedikit yang gulung tikar karena sepinya order.

Dia berharap agar instansi terkait memperhatikan nasib para pengrajin jenang yang tersebar di Kabupaten Jamu. “Usaha ini [produksi jenang] sudah turun temurun dari bapak. Saya generasi kedua yang melanjutkan usaha orangtua. Saya harap perhatian dari pemerintah agar pengrajin jenang tetap bisa menjaga kelangsungan hidup,” terang dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply