Maket perencanaan pembangunan kawasan titik nol kilometer, Malioboro, Kota Jogja. (Foto : istimewa) Caption : Maket perencanaan pembangunan kawasan titik nol kilometer, Malioboro, Kota Jogja. (Foto : istimewa)
Kamis, 29 Juni 2017 20:22 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PENATAAN MALIOBORO
Desain Titik Nol Memperkuat Istana Negara

Desain kawasan titik nol kilometer Kota Jogja tidak sekedar mempercantik ruang namun juga menghadirkan penataan yang sarat dengan nuansa filosofis

Jatengpos.com, JOGJA – Desain kawasan titik nol kilometer Kota Jogja tidak sekedar mempercantik ruang namun juga menghadirkan penataan yang sarat dengan nuansa filosofis Kota Jogja. Desain kawasan ini sekaligus untuk memperkuat posisi Gedung Agung sebagai istana negara.

Arsitek Pembangunan Kawasan Malioboro Ardhyasa Fabrian Gusman menjelaskan, titik nol kilometer merupakan ruang publik Kota Jogja yang saat ini dibenahi melalui perencanaan grand design Malioboro.

Desian titik nol fokus untuk memperkuat karakter ruang kota yang syarat dengan nuansa budaya. Filosofi desain titik nol dari penguatan lokasi dari titik nol tersebut. Letak titik nol diinterpretasikan desain berbentuk lingkaran berada di tengah as ruang jalan.

Fungsi as tersebut sebagai pusat ruang inti dari titik nol kilometer. “Dari titik inilah warga Jogja nantinya dapat membuktikan filosofi melihat tugu Jogja dari tempat tersebut,” terangnya kepada Harianjogja.com, Jumat (23/6/2017).

Pemenang sayembara desain penataan Malioboro ini menambahkan, area sekitar titik nol didesain lebih terbuka, untuk menghindari adanya ruang mati dari penglihatan yang berpotensi untuk kegiatan negatif.

Selain itu, desain titik nol juga memperkuat kedudukan posisi Gedung Agung sebagai istana negara yang berbeda dengan istana negara di tempat lain. “Jika istana negara di tempat lain dilindungi oleh satuan keamanan khusus, maka di Jogja istana negara dilindungi oleh rakyat,” tegas alumnus Fakultas Teknik UGM ini.

Ia menambahkan, fasilitas yang disediakan di area titik nol, seperti lampu Malioboro, spotlight yang menambah daya tarik di malam hari. Serta drinking fountain dengan mengambil air dari PDAM yang dapat dimanfaatkan bagi pengunjung apabila haus.

Di area paving akan dilengkapi branding Jogja berupa lingkaran yang berisi logo, seperti gunung, laut, andong, becak, beringin dan lampu sebagai penguat pola.

“Logo ini dibuat dari ciping teraso berwarna merah agar sesuai dengan warna aslinya. Area ini nantinya dapat digunakan untuk stage performance atau kegiatan dari komunitas,” tegasnya.

Guna menambah keamanan di sekitar titik nol, maka bollard bulat dipasang mengelilingi area yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat duduk. Sedangkan tempat duduk lain akan ditambah kursi tanpa sandaran. Kemudian vegetasi, berupa perdu jenis tanaman pandan. Tanaman ini dipilih untuk meningkatkan konsep aroma khas yang wangi. Sekaligus dilengkapi jalur khusus difabel agar dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.

“Titik nol diharapkan dapat sesuai dengan konsep perencanaan dari Malioboro Teras Budaya. Dapat menjadi terasnya Kraton, mampu menampung kebudayaan masyarakat yang bersumber dari komunitas dan warga. Dengan adanya integrasi ini diharapkan area titik nol dapat menjadi ruang publik berhati nyaman,” ungkap dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply