Kondisi air sumur di Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, Rabu (30/8/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos) Caption : Kondisi air sumur di Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, Rabu (30/8/2017). (Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos)
Rabu, 30 Agustus 2017 23:15 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

AIR BERSIH KLATEN
Debit Air Kecil, Layanan Pamsimas ke 40 Rumah di Tumpukan Disetop Sementara

Layanan air dari Pamsimas ke 40 rumah di Desa Tumpukan, Karangdowo, Klaten, disetop sementara.

Jatengpos.com, KLATEN — Layanan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) ke 40 rumah di Desa Tumpukan, Karangdowo, Klaten, dihentikan sementara karena debit airnya terus berkurang.

Pamsimas hanya mampu melayani kebutuhan 49 rumah. Ketua BPSPAM Desa Tumpukan, Haris Jaka Wibawa, mengatakan saat ini Pamsimas berkapasitas 2.000 liter dan hanya mampu melayani kebutuhan air bagi 49 rumah.

Selain 40 rumah yang diputus, terdapat 100-an rumah di RW 004, RW 005, RW 006, dan RW 007 yang belum bisa dilayani Pamsimas. “Debit air menurun dan sumur-sumur warga banyak yang kering. Paling ketinggian air hanya 10 sentimeter dari dasar sumur,” ujar dia saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Rabu (30/8/2017).

Pria yang juga Ketua RT 012/RW 006, Dukuh Tumpukan, Desa Tumpukan, itu menerangkan saat ini kebutuhan air warga terbantu dengan delapan unit sumur di pinggir sawah dan kali yang dialiri air dari Wonogiri. Namun, kualitas air dinilai buruk.

Air berwarna kuning dan kadang berkapur. Hal itu masih ditambah kandungan pestisida yang diduga ikut larut terbawa air. “Sumur itu airnya tergantung sungai. Kalau sungai kering, sumur juga kering,” beber dia.

Ia menuturkan banyak sumur warga yang juga surut debitnya termasuk sumur miliknya. Sumur sedalam 15 meter itu hanya berisi air setinggi 10 sentimeter dari dasar sumur.

“Air sumur hanya dipakai untuk mandi atau mencuci. Kalau untuk minum, warga kebanyakan membeli air.”

Permasalahan itu, lanjut Haris, pernah disampaikan ke Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Klaten. Ia mengajukan bantuan pembangunan Pamsimas lagi.

“Saya ajukan awal 2017. Sempat juga presentasi di Bappeda namun hingga kini belum progres lagi,” ujar Haris.

Camat Karangdowo, Agus Suprapto, mengatakan persoalan air bersih di wilayahnya sudah ada sejak dulu dan menjadikan warga terbiasa membeli air keliling. Mengatasi hal itu ia berupaya memberikan fasilitas air bersih melalui Pamsimas.

“Namun, kualitas air yang dihasilkan tidak begitu baik. Warga kemudian membeli air bersih dari Karanganyar untuk kebutuhan memasak dan minum,” ujar Agus.

Pamsimas beroperasi optimal di Desa Tumpukan, Ringin Putih, Bulusan, Soka, dan Tulas. Khusus desa yang kualitas airnya buruk, ia mewacanakan warga mendapatkan akses air PDAM.

“Kami pernah komunikasikan dengan PDAM. Namun, biaya instalasinya besar karena belum ada jaringan ke sana. Untuk sementara kami optimalkan dulu dengan Pamsimas,” beber Agus.

Ia mengimbau seluruh kepala desa agar membangun dengan berwawasan lingkungan. Pembangunan jangan sampai mengorbankan pohon untuk ditebang pada saat membangun jalan, misalnya.

“Kami juga mengimbau agar desa membuat biopori atau sumur resapan. Apabila musim kemarau, kebutuhan air bersih dapat tercukupi,” imbau dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply