Fajar S. Pramono Caption : Fajar S. Pramono
Jumat, 1 September 2017 06:00 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Seni, Sastra, dan Kantor yang Beku

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (26/8/2017). Esai ini karya Fajar S. Pramono, seorang peminat masalah sosial dan ekonomi dan merupakan alumnus Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah fajarsp119@gmail.com.

Jatengpos.com, SOLO–Suatu ketika saya berkesempatan melihat sebuah pameran mural tematis di sebuah kantor media massa di Jakarta. Sebuah kantor dengan ruang-ruang beraroma ”keras” karena jurnalis media ini terkenal ”sangar” dan tak mengenal kompromi ketika menuliskan publikasi karya jurnalisme mereka.

Sebelumnya saya pernah melakukan media visit di kantor yang sama. Ruang-ruang yang sama. Orang-orang yang sama. Bedanya adalah kehadiran mural dan berbagai graphic quotation bertema senada di berbagai sudut, yakni tembok, pilar, pintu bilik telepon, sekat smoking area, one way sticker di  jendela, dan keberadaan seni instalasi yang melengkapi membuat ambience yang tercipta jauh lebih bersahabat.

Hommy. Sejuk. Juga gemulai. Ya, seni membuat kehidupan lebih indah. Seorang kawan saya selalu bilang,”Sastra membuat hidup lebih gemulai”. Lebih luwes. Fleksibel. Yang berat terbawa ringan. Yang serius terbawa santai. Otak tak cepat mendidih. Otot tak cepat mengeras.

Pada kesempatan yang lain, saya berinisiatif membawa nuansa sastra ke dalam sebuah acara resmi di kantor saya. Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang formal langsung kami sambung dengan pergelaran musik dan pembacaan puisi. Tak tanggung-tanggung, pembaca utamanya adalah direksi dan komisaris.

Responsnya? Luar biasa. Tak terdengar celoteh ”aneh” atas performance itu. Yang ada justru hampir semua hadirin merasa excited dengan kombinasi acara formal dan nonformal ini. Baju mereka boleh jas lengkap berdasi, tapi hati pekerja serasa dekat tak bertepi.

Upacara yang selama ini terkesan ”memegalkan” dan ”mencapekkan” berubah menjadi menyenangkan. Semua pulang dengan hati yang happy. Akun media sosial para pekerja tak henti memviralkan pengalaman baru ini. Jadi, ternyata benar, seni dan sastra bisa membuat suasana yang kaku menjadi santai.

Yang beku menjadi cair. Yang pada kemudian mengalir bersama-sama menjiwa ke satu arah tujuan. Kantor memang sering kali menjadi perlambang kebekuan karya. Suasana yang monoton, hubungan yang terkekang dengan istilah atasan bawahan, pangkat jabatan, teruraikan ketika seni dan sastra menjadi tali pemadu.

Toh, sesungguhnya diksi atasan dan bawahan dan dikotomi job description semata-mata merupakan alat sistematis dari sebuah cara bekerja. Itu sekadar pembagian tugas dan tanggung jawab, namun intinya seragam: bergerak menuju satu tujuan yang sama.

Berbagai referensi menjelaskan fungsi sastra yang mulia. Ada lima, setidaknya. Pertama, fungsi rekreatif. Memberikan rasa senang. Kedua, fungsi didaktif. Menunjukkan pada kebenaran dan kebaikan. Ketiga, fungsi estetis. Memberikan keindahan.

Keempat, fungsi moralitas. Moral yang tinggi di dalam karya sastra, mengantar pengetahuan tentang perbedaan baik dan buruk. Kelima, fungsi religius. Memberi teladan bagi penikmatnya dengan ajaran agama yang dikandungnya.

Selanjutnya adalah: Beberapa hal bisa muncul dari aktivitas yang lain…

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply