Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (kanan) dan Ketua Umum Koppasindo Nusantara Joko Setyanto (kiri) menandatangai nota kesepakatan didampingi Ketua Pengawas Koppasindo Nusantara Paul Soetopo Tjokronegoro (dua kiri), di The East Jakarta, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (29/9/2017). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja) Caption : Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X (kanan) dan Ketua Umum Koppasindo Nusantara Joko Setyanto (kiri) menandatangai nota kesepakatan didampingi Ketua Pengawas Koppasindo Nusantara Paul Soetopo Tjokronegoro (dua kiri), di The East Jakarta, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (29/9/2017). (Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 29 September 2017 19:40 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

TATA NIAGA
Jalur Distribusi Barang ke DIY Akan Dipangkas

Tata niaga barang di DIY akan diperbaiki

Jatengpos.com, JAKARTA–Pemerintah DIY berkomitmen memperbaiki tata niaga serta pengelolaan bahan pangan agar menguntungkan petani serta masyarakat luas. Antara lain dengan memangkas jalur distribusi barang.

Pemerintah DIY telah meneken kerja sama dengan Koperasi Pedagang Pasar Indonesia (Koppasindo) Nusantara tentang tata niaga dan pengelolaan pasokan bahan pangan, di The East Jakarta, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (29/9/2017).

Tujuan kerja sama yang terjalin, untuk membangun sinergi dalam rangka penguatan kapasitas pedagang dan kelembagaan koperasi pasar di DIY. Selain itu, untuk mewujudkan tata niaga pangan yang lebih efisien, memperkuat posisi tawar pedagang dan senantiasa menjamin ketersediaan bahan pangan.

Ketua Pengawas Koppasindo Nusantara Paul Soetopo Tjokronegoro menjelaskan, kerja sama tersebut akan berimbas pada petani dan pedagang kecil. Koppasindo Nusantara ingin meminimalisir kerugian petani karena permodalan yang biasanya disebabkan utang ke rentenir. Selain itu, tengkulak tanpa nilai tambah harus dihindari. Lembaganya juga berkomitmen memperpendek jalur distribusi yang selama ini sekitar delapan hingga 14 jalur menjadi empat jalur saja.

“Jalurnya hanya empat yaitu petani, UMKM [Usaha Mikro Kecil Menengah], pedagang besar, dan Koppasindo [Nusantara],” tutur dia, Jumat.¬†Adapun bahan pangan yang ditangani antara lain beras, cabai, bawang merah, bawang putih, telur ayam, daging ayam, dan bahan pangan lainnya.

Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY Budi Hanoto menyatakan, kerja sama ini merupakan hasil rapat koordinasi timnya pada Agustus lalu. Tim menyimpulkan bahwa faktor tata niaga barang di sektor hilir sangat berperan penting dalam proses suplai barang ke DIY.

Pada jalur hilir tersebut sepertinya masih ada yang kurang stabil. Oleh karena itu, peran koperasi sangat dibutuhkan dan bisa menjadi alternatif pemasok. “Dengan kemampuan teknologi, kemampuan digital yang dimilikinya, Koppasindo [Nusantara] bisa melihat surplus dan defisit sehingga bisa menjadi pemasok di pasar-pasar yang akan dikerjasamakan oleh pemerintah kabupaten dan kota di DIY,” ungkap dia.

Beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) DIY menaruh harapan besar terhadap kerja sama ini. Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati mengatakan, kerja sama ini bersifat global dan akan ditindaklanjuti di kabupaten dan kota. Ia berharap dengan adanya kerja sama ini, jalur distribusi menjadi lebih baik yang artinya tidak akan ada kelangkaan barang.

“Terus terang analisa kami tentang kerja sama ini belum jauh. Tapi kami punya harapan, jalur tata niaga bahan pokok dari sumbernya sampai ke pedagang dan konsumen jadi lebih baik. Komoditinya belum secara detail. DIY punya produk yang bisa dikirim ke daerah lain. Ini merupakan suatu jaringan,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko mengatakan, ada potensi besar dalam kerja sama ini. Selain memangkas jalur distribusi, ia melihat, kerja sama ini bisa menjadi jembatan untuk menjaga kestabilan pasokan bahan pangan terutama volatile food (inflasi kelompok harga barang bergejolak). “Misalnya di suatu musim, DIY melimpah cabai, DIY mengirim ke daerah yang kekurangan, begitu juga sebaliknya. Saat ada kekurangan bahan pangan di DIY, kita bisa ambil dari daerah lain dengan harga yang wajar. Sehingga tidak ada lagi harga melambung tinggi atau harga anjlok,” ujar dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply