Pembatik dari Taman Lumbini sedang membatik kain sutera dalam acara Jogja Kota Batik Dunia 2017 di Festival Jogja Expo Center, Kamis (27/10/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Caption : Pembatik dari Taman Lumbini sedang membatik kain sutera dalam acara Jogja Kota Batik Dunia 2017 di Festival Jogja Expo Center, Kamis (27/10/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 29 Oktober 2017 08:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Batik Taman Lumbini Unggulkan Motif Bersambung dan Desain Ekslusif

Batik Taman Lumbini yang mengunggulkan motif yang bersambung dan utuh

Jatengpos.com, JOGJA-Jogja dikenal sebagai salah satu kota batik di Indonesia. Banyak pelaku usaha yang menawarkan batik dengan ciri khasnya masing-masing. Seperti Batik Taman Lumbini yang mengunggulkan motif yang bersambung dan utuh.

Ditemui dalam acara Festival Jogja Kota Batik Dunia 2017 di Jogja Expo Center, Kamis (26/10/2017) malam, pembatik Taman Lumbini, Padmi, terlihat sedang mencanting selembar kain sutera yang sudah penuh dengan goresan motif. Kain yang terlihat lebih lembut dibandingkan dengan kain batik lainnya itu merupakan pesanan orang Amerika.

Perempuan yang sudah piawai membatik sejak usia 10 tahun ini mengatakan, motif batik Taman Lumbini tidak pernah putus, tetap bersambung, dan dalam satu lembar kain membentuk motif yang utuh.

“Jadi kalau [batik Taman Lumbini] dibikin pakaian sayang karena nanti ada sebagian motif yang kepotong. Kalau mau dibikin pakaian, kainnya dibentuk rok dulu baru dibatik,” kata Padmi pada Harianjogja.com sembari menunjukkan kain katun yang sudah dibentuk rok dan siap untuk dicanting.

Tanpa meninggalkan kesan batik klasiknya, Taman Lumbini menerapkan motif kontemporer yang dipadukan antara motif klasik dan modern. Seperti motif parang yang dipadukan dengan motif bunga. Ada pula motif tribal yang menghiasi tepi kain batik sehingga memancarkan batik yang tetap modern.

Sementara aksen klasik ditunjukkan dari permainan warna yang digunakan. Padmi mengatakan, dua warna unggulan Taman Lumbini adalah wedel atau biru tua cenderung hitam dan warna sogan atau cokelat keemasan.

Kendati tidak menyebut proses peracikan warnanya, ia mengakui warna yang dimunculkan batik Taman Lumbini berbeda dengan batik lainnya. “Warnanya itu berani,” katanya.

Perempuan asal Pandak, Bantul, ini mengatakan, motif batik Taman Lumbini bersifat limited edition. Selain dirancang atas dasar permintaan pelanggan, motif yang dimunculkan tidak diproduksi dalam jumlah banyak.

Hal tersebut membuat harga jual batik Taman Lumbini terbilang tinggi. Harga kain batik ukuran 2×1,1 meter dijual minimal Rp3 juta sementara kain selendang dijual sekitar Rp1 juta.

Padmi mengatakan, harga jual yang tinggi sudah berbanding dengan waktu dan tenaga yang dikerahkan untuk membuat selembar kain batik. Setidaknya, untuk menyelesaikan satu kain batik dibutuhkan waktu paling cepat dua bulan. “Kalau sampai empat bulan itu yang dua kali proses pencantingan,” tuturnya.

Usaha batik yang dibuka di Kalipucang, RT 4 Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini banyak melayani konsumen dari luar negeri, terutama Amerika. Kebanyakan pelanggan adalah kalangan kolektor. Selama ini, pemasaran hanya dilakukan melalui online.

Padmi mengatakan, saat ini pembatik di Jogja sudah mulai bangkit dari mati surinya. Dulu sekitar tahun 1990-an, pembatik di Jogja seakan tak punya masa depan. Namun sejak batik ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco pada 2009, ditambah pula dengan akses internet yang membuka peluang bisnis batik melalui online merajalela, membuat usaha batik tulis kembali bergeliat lagi.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply