Pedagang beraktivitas di Pasar Gede, Solo, Jumat (27/10/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos) Caption : Pedagang beraktivitas di Pasar Gede, Solo, Jumat (27/10/2017). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos)
Minggu, 29 Oktober 2017 06:00 WIB Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos Solo Share :

Jembatan Mojo Ditutup, Begini Pengorbanan Pedagang Pasar Gede Solo

Sejumlah pedagang Pasar Gede Solo mengaku harus berangkat lebih pagi gara-gara Jembatan Mojo ditutup.

Jatengpos.com, SOLO — Sejumlah pedagang Pasar Gede Solo terdampak penutupan Jembatan Mojo di Semanggi, Pasar Kliwon, yang berlaku mulai Jumat (27/10/2017) hingga 10 hari berikutnya. Pedagang yang berasal dari daerah Mojolaban, Sukoharjo, harus berangkat lebih pagi karena harus mengambil jalur memutar.

Jika biasanya mereka menuju Pasar Gede melalui jalur Mojolaban-Semanggi, Solo, mulai Jumat pagi mereka harus melewati Palur atau Telukan, Grogol, Sukoharjo. Meski ada juga yang berani mengambil tantangan dengan melewati jembatan darurat dari bambu yang menghubungkan Mojolaban dan Kampung Sewu, Jebres, Solo.

Salah satu pedagang Pasar Gede, Sarmo, mengatakan memilih lewat jembatan bambu selebar kurang dari dua meter karena lebih cepat sampai ke Pasar Gede. Dia tinggal di Mojorejo, Mojolaban, Sukoharjo, atau sekitar 500 meter dari jembatan Mojo.

Menurutnya jika harus menuju Solo menyeberangi jembatan Palur atau jembatan Bacem di Grogol, harus menempuh jarak yang tiga kali lipat lebih jauh. “Biasanya hanya 10-15 menit sampai ke Pasar Gede. Tapi kalau melingkar bisa tiga kali lipat lebih lama,” kata dia saat ditemui Koran Solo di Pasar Gede, Jumat. (Baca: Jembatan Mojo Ditutup, Pengendara Motor Padati Jembatan Sesek Beton-Gadingan)

Namun, dia juga tetap memperhatikan faktor keselamatan. “Jika turun hujan atau malam harinya sudah turun hujan, ya saya tidak akan lewat jembatan sesek [jembatan bambu] itu. Kalau hujan ya lewat jembatan Bacem atau Palur yang aman,” kata dia.

Tidak jauh dari lapak sandal milik Sarmo, Tri Suyami menimpali. “Kalau saya tidak berani lewat jembatan bambu, jadi ya pilih memutar saja. Selisih 15 hingga 20 menit tidak masalah, yang penting aman,” kata pedagang telur asin di Pasar Gede tersebut.

Tri tinggal di wilayah Bekonang, Mojolaban. Dia memilih jalur lingkar melalui Palur. Agar tidak terlambat sampai pasar, dia pun berangkat ke pasar setengah jam lebih awal.

Lain lagi dengan Nanik. Penjual dawet di sekitar gerbang Pasar Gede yang tinggal di Karangwuni, Sukoharjo, itu memilih melewati Jl. Ciu di Sukoharjo dan menyeberang ke Solo melewati Jembatan Bacem. “Ya memang memutar, apalagi tadi sempat macet. Sebenarnya ada jembatan bambu yang menghubungkan langsung ke Solo. Tapi saya tidak berani melewatinya,” kata dia.

Agar bisa sampai pasar tepat waktu, dia pun harus berangkat dari rumahnya lebih awal. Wanita itu biasa berangkat dari rumahnya pukul 08.00 WIB, tapi kini harus berangkat pukul 06.30 WIB. “Jalannya ramai. Tadi sempat macet, jadi setengah lebih lama dari biasanya,” kata dia.

Selain Nanik, ada juga pedagang lain yang memilih melewati jalur tersebut, seperti Yami yang sehari-harinya berjualan es gempol pleret di Pasar Gede.

 

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply