Sejumlah pengendara sepeda motor memanfaatkan jembatan sasak untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo di Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Selasa (31/10/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos) Caption : ????????????????????????????????????Sejumlah pengendara sepeda motor memanfaatkan jembatan sasak untuk menyeberangi Sungai Bengawan Solo di Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Selasa (31/10/2017). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)
Selasa, 31 Oktober 2017 17:35 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

Jembatan Sasak Gadingan-Solo Diklaim Kantongi Izin

Jembatan sasak sebagai jalur alternatif Solo-Sukoharjo selama Jembatan Mojo ditutup diklaim sudah kantongi izin.

Jatengpos.com, SUKOHARJO — Pengelola jembatan sasak di Desa Gadingan, Mojolaban, Sumadi Hala, mengklaim jembatan yang menghubungkan Gadingan, Sukoharjo-Kelurahan Sewu, Jebres, Kota Solo, mengantongi izin dari Dinas Perhubungan (Dishub) Sukoharjo.

Izin itu diterbitkan setelah proses lelang pengelolaan penyeberangan Sungai Bengawan Solo rampung. Pria yang akrab disapa Hala ini mengungkapkan ada dua pengelolaan penyeberangan sungai yang dilelang yakni Beton dan Mojolaban pada akhir 2016 lalu. (Baca: Pemkot Solo Perintahkan Jembatan Sasak Solo-Gadingan Ditutup, Ini Alasannya)

“Saya pemenang lelang pengelolaan penyeberangan sungai di Beton senilai Rp35 juta. Jadi jembatan sasak di Beton legal karena saya memberikan pemasukan ke Pendapatan Asli Daerah [PAD] Sukoharjo,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (31/10/2017).

Masa kontrak kerja sama pengelolaan penyeberangan sungai di Beton habis pada Desember mendatang. Selanjutnya, instansi terkait bakal kembali melelang pengelolaan penyeberangan sungai di Beton.

Kini, warga setempat kembali mengoperasikan rakit dari bambu di Kampung Ngepung, Kelurahan Sangkrah, Pasar Kliwon, Kota Solo. Imbasnya, pendapatan dari pengguna jalan yang melewati jembatan sasak merosot tajam.

“Saya komplain ke instansi terkait lantaran ada warga yang membuat penyeberangan ilegal dengan rakit. Terus terang saya merugi karena jumlah pengendara sepeda motor yang lewat jembatan sasak turun drastis dibanding pekan lalu,” papar dia.

Pada pekan lalu, jumlah pengendara sepeda motor yang memanfaatkan jembatan sasak lebih dari 500 unit dengan pendapatan sekitar Rp6 juta. Hala harus menjatah biaya konsumsi dan upah tenaga kerja senilai Rp2,5 juta.

Jumlah pekerja di kedua sisi jembatan sasak itu lebih dari 20 orang. “Sekarang pemasukan untuk biaya konsumsi tenaga kerja saja susah, bagaimana saya mencari untung,” terang dia.

Kepala Desa Gadingan, Asih Suroso, membenarkan proses lelang pengelolaan penyeberangan sungai di Beton oleh Pemkab Sukoharjo. Namun, Asih tak mengetahui secara teknis pengelolaan penyeberangan sungai berupa jembatan sasak itu.

Jembatan sasak menjadi jalur alternatif terdekat yang menghubungkan Kota Solo-Sukoharjo atau sebaliknya selama penutupan Jembatan Mojo. Asih meminta Pemkot Solo juga mencari solusi alternatif penyeberangan sungai apabila hendak menutup jembatan sasak.

“Semestinya jangan sepihak. Pemkot Solo harus berkoordinasi dengan Pemkab Sukoharjo ihwal rencana penutupan jembatan sasak,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Dishub Sukoharjo, Joko Indriyanto, belum dapat dimintai konfirmasi ihwal rencana penutupan jembatan sasak di Gadingan, Mojolaban. Solopos.com telah menghubungi ponselnya namun tak direspons.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply