Muntowil, sedang menunjukkan buku sketsa berisi ungkapan dan gambar-gambar yang dibuat para turis, setelah berkunjung di Desa Wisata Banguncipto, Jumat (27/10/2017).(Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Caption : Muntowil, sedang menunjukkan buku sketsa berisi ungkapan dan gambar-gambar yang dibuat para turis, setelah berkunjung di Desa Wisata Banguncipto, Jumat (27/10/2017).(Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 29 Oktober 2017 20:20 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Mengenalkan Kebahagiaan ala Desa kepada Dunia

Muntowil, lelaki ini, sudah hilir-mudik di laman media massa, baik cetak maupun elektronik, bersanding dengan paket wisata ontelnya, Towilfiets. Muntowil, atau Towil, menawarkan pengalaman jalan-jalan yang unik. Saat melilingi Desa Banguncipto, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo, wisatawan bukan hanya merasakan keseruan menggowes sambil melihat pemandangan pedesaan. Ada nilai hidup yang ingin Towil sampaikan kepada mereka. Sebuah semangat dari pemuda untuk menunjukkan keindonesiaan.

Jatengpos.com, KULONPROGO— Rombongan turis yang mayoritas berasal dari Eropa itu dengan penuh kerelaan menempuh jarak 15 kilometer ke barat pusat Kota Jogja, untuk bersepeda dan berkeliling desa. Selama perjalanan, mereka bisa melihat ragam kegiatan masyarakat. Terjun bermain lumpur di sawah misalnya. Sepeda klasik dari beragam merk seperti Teha, BSA, Triumph, Philip, Simplex ataupun Gazell, bisa digenjot, sementara pemandangan alam yang penuh bau dedaunan segar terhampar sejauh mata memandang.

Duduk di bawah naungan joglo, Towil berbicara dengan irama penuh gelombang. Mulanya ia menjaga hobi mengontel bersama pencinta sepeda lainnya. Klangenan itu pada akhirnya memberinya satu per satu fragmen penuh kenekatan. Pada 2007 dia membawa sejumlah pelancong asing ke desanya.

“Menurut teman-teman saya, ini adalah rencana gila,” kata bapak tiga anak ini. Bagi dia, wisata hadir dari sebuah panggilan jiwa. Lelaki berambut gondorng yang pernah bekerja di sebuah hotel ini menganggap menyatukan hobi dengan sebuah bisnis yang memiliki segmen tertentu merupakan kenikmatan. Hidup di desa, ia ingin memberikan pengalaman hidup yang berbeda kepada para turis. Warga Banguncipto, tak kemudian dibuat seolah-olah sebagai pelaku wisata. Penduduk desa yang berada di pinggiran Jembatan Bantar ini diberikan kesempatan untuk berperilaku dan bertindak apa adanya.

“Mereka berinteraksi dengan para bule, namun masyarakat juga memahami secara pribadi, bahwa bule adalah manusia yang sama seperti kita. Mereka juga tidak melulu suka dianggap lebih dibandingkan dengan manusia Indonesia, seperti biasa saja,” ucap dia, Jumat (27/10/2017).

Turis yang berwisata dikenalkan dengan beragam aktivitas seperti ronda, bertani, menenun, bahkan bercocok tanam di pekarangan. Tak jarang, wisatawan sampai menginap di rumah warga.

Penduduk desa tanpa segan mengenalkan apa yang ada di hadapan mereka saat itu, sekali pun hanya pohon pepaya, mangga, pisang, sengon, atau rempah-rempah di halaman, atau sekedar mengenalkan bentuk pohon jati yang meranggas di musim kemarau, setelah menunjukkan sebuah kursi dan meja kayu yang kokoh.

“Dari sana, kami ingin mengenalkan sebuah proses, sekilas itu simpel, sebuah pohon tumbuh dari kecil, besar dan berbuah. Tapi itulah proses kehidupan, ada sebuah tahapan,” tutur pemilik 100 sepeda klasik ini. Towil ingin menjelaskan cara warga memaknai kehidupan. “Bahwa pada kenyataannya tidak ada yang instan,” ujar dia.

Orang-orang Banguncipto diajak untuk mengenalkan sejumput kenyataan hidup orang Indonesia kepada turis asing. Bahkan ia membiarkan warga menerima kehadiran turis ketika mereka sedang menggendong anaknya, menyapu halaman, bahkan di tengah kondisi rumah yang tak serapi saat ada hajat.

“Jauh di negara mereka di sana, mungkin mereka hanya berpikir tentang uang, uang dan uang. Di desa ini, mereka bisa menemukan kenyamanan, tenang, melakukan banyak hal dari hati dan keinginan murni mereka, ada kebersamaan, ada toleransi, sifat nguwongke [memanusiakan],” kata Towil.

Kehidupan Lokal

Towil menilai, ada yang salah dalam pemahaman orang Indonesia saat berinteraksi dengan bule. Penduduk lokak kerap mengira bule lebih kaya, lebih punya banyak uang. Inilah yang menjadi alasan Towil meminta orang-orang di desanya itu bersikap apa adanya. Bahkan Towil santai menanggapi istilah ndesa yang sempat viral di medsos. Towil sepakat, desa dan kota hanya urusan wilayah, tapi untuk menjadi maju, dua kategori itu tak relevan.

“Jangan minder karena ndesa. Buatlah sesuatu. Dari kata itu kita bisa menciptakan hal positif di dalamnya,” ucap dia. Dua cangkir teh panas yang sedari tadi menganggur di atas meja dia seruput sedikit.

Sembari membenahi tempat duduknya dan mengusir laba-laba kecil yang merayap di pipinya, Towil menganggap setiap wisatawan memiliki kesan mendalam setelah berkunjung ke desanya. Yang paling ia ingat, ketika seorang turis ingin membawa anaknya ke desa itu untuk mengenal kehidupan di desa.

Turis itu bercerita memiliki anak yang telah dia belikan mobil dan perangkat teknologi termutakhir. Namun anak itu seakan tak kunjung tumbuh dewasa. Di desa, si pelancong dan anaknya mendapat pengalaman baru tatkala melihat orang-orang desa yang tidak semuanya memiliki mobil dan banyak harta, masih bisa santai, tetap mampu menjalani hidup dengan baik pula.

“Menurutnya, orang desa terlihat bahagia di tengah kekurangannya. Nah, bahagia itu apa sih? sebetulnya bahagia itu kan nrima, sudah apa adanya saja, tak usah berlebihan,” ucap Towil.

Menjadi Indonesia yang apa adanya, itu juga yang menjadi pesan Towil kepada seluruh orang, di tengah gaung Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017 kali ini. Menjadi pemuda Indonesia juga berarti menjadi kreatif dan jeli dan menggali potensi masyarakat lalu bergerak maju dan berkembang.

Sebuah kalimat besar dengan spidol berwarna biru terlihat di buku sketsa ukuran A3 yang dipegang Towil. Ditulis oleh pasangan bernama Wim dan Mary serta Annelies dan Jo, dari Keluarga Crombach, yang pernah menjadi turis Towilfiets. Sebagian isinya berbunyi, “Thank you for a marvelous en [and] interesting tour by bike. We enjoy the authentical envirement [environment] of Jawa from inside.

Kata-kata itu bisa dirangkum menjadi cara warga desa hidup, yang dibagikan Towil kepada turis. Otentik.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply