Sejumlah Food Startup memamerkan produknya di acara The Final Food Startup Indonesia yang digelar Bekraf di Atrium Plaza Ambarrukmo, Jumat (29/9/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Caption : Sejumlah Food Startup memamerkan produknya di acara The Final Food Startup Indonesia yang digelar Bekraf di Atrium Plaza Ambarrukmo, Jumat (29/9/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 1 Oktober 2017 02:22 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

PAMERAN SLEMAN
Food Startup Indonesia, Dekatkan Brand Lokal ke Calon Investor

Pameran Sleman kali ini digagas Bekraf dan Foodlab Indonesia

Jatengpos.com, SLEMAN-Puluhan brand makanan lokal dari berbagai daerah memamerkan produknya dalam The Final Food Startup Indonesia yang digelar di Plaza Ambarrukmo, Jumat (29/9/2017). Acara yang digagas oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Foodlab Indonesia ini menjadi ruang bagi para Food Startup lokal untuk menarik investor.

Perwakilan Foodlab Indonesia, Yustinus Agung mengatakan Food Startup Indonesia ini sudah dimulai sejak 2016. Bahkan, dari akhir 2016 hingga 2017, hampir 2.000 food startup yang ingin bergabung dalam program tersebut.

“Namun, setelah kami kurasi, ada 150 startup yang terpilih, yakni masing-masing 50 food startup dari Jogja, Bali dan Bandung. Kemudian dikurasi kembali dan terpilih 30 startup yang akhirnya dipamerkan di acara ini,” ujar Agung.

Agung menambahkan acara ini digelar bertujuan untuk mempertemukan calon-calon investor yang tertarik di bidang kuliner dengan para pelaku usaha makanan. Diharapkan melalui ajang ini, para pelaku usaha makanan ini mendapatkan pengembangan usaha dan perluasan pasar secara langsung.

“Melalui acara ini, kami membantu mereka dalam pengembangan produk dan memberikan ruang agar mereka dapat lebih dekat dengan investor,” imbuhnya.

Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fajar Hutomo mengungkapkan Food Startup Indonesia lahir di Jogja pada 2016 lalu. Gagasan awal dibentuknya food startup adalah supaya ide-ide kreatif pada startup khususnya di bidang kuliner dapat lebih dikenal.

Pasalnya, kata Fajar, selama ini startup lebih akrab untuk menyebut aplikasi digital. Padahal, di dalam ekonomi kreatif ada 16 sub sektor yang dirangkul, termasuk makanan atau kuliner.

“Perlu diketahui, makanan atau bisnis kuliner adalah penyumbang terbesar PDB nasional. Sebanyak 40 persennya disumbang dari sektor ini,” ungkap Fajar.

Dalam kurun waktu belakangan ini, lanjut Fajar, food startup menjadi salah satu bisnis yang dilirik sejumlah investor luar negeri. Para investor ini tidak hanya melulu mencari aplikasi digital, tetapi juga sektor makanan, fashion hingga craft. Peluang ini menjadi kesempatan bagi brand-brand Indonesia untuk tampil dan berkembang.

“Diharapkan brand lokal pun dapat mengglobal, agar food startup di Indonesia dapat semakin maju dan berkembang,” imbuh Fajar.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply