Jenazah Siti Munawarotun, warga Podosoko, Sawangan, Magelang, berada di kamar mayat RS Pandan Arang (RSPA) Boyolali, Sabtu (28/10/2017). Siti ditemukan meninggal dengan luka di leher diduga menjadi korban perampokan. (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos) Caption : Jenazah Siti Munawarotun, warga Podosoko, Sawangan, Magelang, berada di kamar mayat RS Pandan Arang (RSPA) Boyolali, Sabtu (28/10/2017). Siti ditemukan meninggal dengan luka di leher diduga menjadi korban perampokan. (Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos)
Sabtu, 28 Oktober 2017 22:15 WIB Akhmad Ludiyanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

PEMBUNUHAN BOYOLALI
Kasir Restoran Meninggal dengan Luka Leher, Begini Tanggapan Rekan-Rekannya

Kasir restoran Boyolali yang ditemukan meninggal dikenal ramah dan tidak banyak tingkah.

Jatengpos.com, BOYOLALI — Kabar meninggalnya Siti Munawarotun, 17, Sabtu (28/10/2017), membuat gempar warga di sekitar Rumah Makan Seafood dan Chinese Dapoer Kalimi di Jl Pandanaran 252 Boyolali.

Apalagi, karyawati ini ditemukan tergeletak di halaman rumah makan bersimbah darah akibat luka sayatan di leher dan luka tusuk di punggung kiri. Bagi rekan-rekan kerja Siti, kabar itu juga sangat mengejutkan. (Baca: Kasir Restoran Tewas dengan Luka Leher, Polisi Periksa 4 Saksi)

Mereka seolah tidak percaya Munawarotun yang biasa disapa Mumun itu pergi dengan cara yang mengenaskan. Yanto, 23, rekan kerja Siti mengaku sangat terkejut dan tidak percaya dengan kabar yang ia dapat dari ibunya pagi itu.

“Pagi itu saya sedang tidur. Sekitar pukul 07.00 WIB saya ditelepon ibu saya katanya ada teman saya sesama karyawan Dapoer Kalimi meninggal dibunuh. Saat itu rasanya tidak percaya,” ujar warga Musuk, Boyolali, ini saat ditemui Solopos.com di rumah makan tempatnya bekerja.

Terlebih, baginya Mumun adalah orang yang baik, meskipun dia mengaku jarang berinteraksi dengannya selain urusan pekerjaan. “Mbak Mumun orang yang baik. Dia juga ramah kepada pelanggan,” kenangnya.

Menurutnya, interaksi sering terjadi saat Mumun menyerahkan menu pesanan pelanggan untuk dimasak Yanto. “Biasanya dia cuma ke belakang ngasih menu [pesanan] lalu dia kembali lagi ke depan untuk melayani pelanggan,” imbuh karyawan yang sudah bekerja di warung makan itu selama sekitar tiga tahun.

Karena sibuk dengan bidang pekerjaan masing-masing, Yanto tidak mengenal pribadi Mumun lebih jauh. Namun sepengetahuannya, Mumun tidak punya banyak masalah. “Setahu saya sih orangnya juga biasa-biasa saja. Tak punya masalah yang berat. Enggak nyangka dia dibunuh.”

Sementara itu, salah satu mantan rekan Mumun yang menolak disebut namanya juga mengaku kaget dengan kabar duka temannya itu. “Saya benar-benar kaget dapat kabar itu dari teman. Makanya saya ke sini untuk memastikan berita itu,“ ujar wanita muda asal Boyoali Kota yang saat ini sudah bekerja di pabrik itu.

Bagi dia, semasa hidup Mumun adalah sosok yang santun dan tidak banyak polah. “Orangnya baik kok. Grapyak [ramai] juga,” lanjut perempuan yang mengundurkan diri sebagai karyawati rumah makan sejak dua bulan lalu itu.

Rekan Mumun ini menambahkan korban yang merupakan warga Podosoko, Sawangan, Magelang, itu telah bekerja di rumah makan itu sejak dua tahun yang lalu. Seperti dirinya, Mumun bekerja di bagian pelayanan pelanggan yang terkadang menjadi kasir dan kadang menjadi pramusaji. “Di sini bagian depan [pelayanan] harus bisa semua pekerjaan,” kata dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply