Pelaku sejarah di Fakultas Kedokteran UGM Prof Soenarto Sastrowijoto (kiri) menyerahkan buku berjudul Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1946-2016 kepada Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono (kanan), saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Senin (30/10/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja) Caption : Pelaku sejarah di Fakultas Kedokteran UGM Prof Soenarto Sastrowijoto (kiri) menyerahkan buku berjudul Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1946-2016 kepada Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono (kanan), saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Senin (30/10/2017). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 30 Oktober 2017 17:55 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Tebal 700 Halaman, Buku Sejarah Dunia Kedokteran Sejak Zaman Belanda Diterbitkan

UGM terbitkan buku sejarah Fakultas Kedokteran.

Jatengpos.com, JOGJA— Sebuah buku yang memuat sejarah pendidikan kedokteran di Indonesia sejak zaman Belanda hingga saat ini diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran UGM. Buku yang ditulis Prof Ova Emilia dan sejumlah koleganya di Fakultas Kedokteran UGM itu memberi referensi penting tentang potret dunia kedokteran dari masa ke masa termasuk perkembangannya saat ini.

Buku berjudul Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1946-2016 itu memuat perjalanan pendidikan kedokteran di Indonesia sejak masih bernama School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia).

Awalnya, pendidikan kedokteran di Indonesia lebih berorientasi pada kepentingan kolonial Belanda saat itu. Pengobatan dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat non-Eropa kala itu pada hakekatnya untuk menangkal agar penyakit tidak menular dan mejangkiti masyarakat Eropa yang ada di Indonesia.

Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan kedokteran berubah menjadi Nederlandsch Indische Artsen School (Nias) hingga kemudian berdiri Fakultas Kedokteran UGM.

Meski pendidikan kedokteran sudah ada yang namanya Stovia, tapi pendidikan kedokteran pertama di Indonesia yang memang didirikan oleh negara adalah Fakultas Kedokteran UGM,” kata Sri Awalia Febriana, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Fakultas Kedokteran UGM saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Senin (30/10/2017). Kunjungan Tim dari Fakultas Kedokteran UGM itu dilaklukan jelang acara bedah buku Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 1946-2016 yang akan diselenggarakan Rabu (1/11/2017) di Ruang Theater Fakultas Kedokteran UGM.

Berdirinya fakultas kedokteran tertua di Indonesia itu bahkan mendorong lahirnya Universitas Gadjah Mada saat ini. Penulisan buku setebal lebih dari 700 halaman itu melibatkan konsultan ahli sejarah termasuk para pelaku sejarah itu sendiri, diantaranya Prof Soenarto Sastrowijoto mantan Dekan Fakultas Kedokteran UGM.

Prof Soenarto Sastrowijoto yang turut hadir dalam kunjungan ke Kantor Harian Jogja mengungkapkan, buku tersebut ingin memberi referensi pada generasi muda mengenai spirit perjuangan di dunia kedokteran pada zaman dahulu yang masih relevan dilakukan sampai saat ini.

Di UGM sendiri menurut Prof Soenarto, banyak nilai-nilai luhur di dunia kedokteran yang layak diteladani selain perkembangan ilmu pengetahuan kedokterannya yang berguna bagi masyarakat. “UGM itu termasuk Fakultas Kedokteran yang tidak profit oriented [berorientasi pada keuntungan] tapi social oriented [berorientasi sosial]. Sekarang ini banyak yang hanya profit oriented,” ungkap guru besar yang usianya hampir menginjak 79 tahun itu, namun masih berbicara dengan jernih.

Ditambahkannya, ilmu kedokteran di berbagai dunia berkembang dengan cepat. Indonesia sejatinya harus sigap merespons hal itu demi kesehatan bangsanya serta supaya layanan kesehatan semakin terjangkau secara ekonomi. “Mungkin diagnosis suatu penyakit bisa sama [antara lembaga kedokteran di berbagai dunia] tapi pengobatannya bisa berbeda tergantung kapasitas personel dokternya,” imbuhnya lagi.

Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono mengapresiasi komunikasi yang baik antara kalangan lembaga pendidikan kedokteran dengan media. Menurut dia selama ini, banyak sekali temuan atau penelitian di bidang kesehatan yang tak tersentuh oleh publik. Media bisa menjadi jembatan untuk menghubungkan keduanya agar temuan di dunia kedokteran bisa semakin dikenal dan bermanfaat bagi masyarakat. “Kami memiliki ruang untuk menerbitkan temuan-temuan menarik yang selama ini tidak diketahui masyarakat padahal memiliki banyak manfaat,” jelas Anton Wahyu.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply