Rektor Universitas Diponegoro Semarang Prof. Yos Johan Utama membuka 3rd International Conference of Indonesia Society for Remote Sensing (ICOIRS) 2017-PIT MAPIN XXIV yang berlangsung di Kota Semarang, Selasa (31/10/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Istimewa-UPT Humas Undip) Caption : Rektor Universitas Diponegoro Semarang Prof. Yos Johan Utama membuka 3rd International Conference of Indonesia Society for Remote Sensing (ICOIRS) 2017-PIT MAPIN XXIV yang berlangsung di Kota Semarang, Selasa (31/10/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Istimewa-UPT Humas Undip)
Rabu, 1 November 2017 04:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

KAMPUS DI SEMARANG
Ratusan Ahli Penginderaan Jauh Kumpul di Undip

Kampus Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang didatangi ratusan ahli penginderaan jauh.

Jatengpos.com, SEMARANG — Ratusan ahli dan peneliti penginderaan jauh berkumpul dalam The 3rd International Conference of Indonesia Society for Remote Sensing (ICOIRS) 2017-PIT MAPIN XXIV di kampus Universitas Diponegoro (Undip) di Kota Semarang, Jawa Tengah.

“Ini merupakan ICOIRS yang ketiga. Yang pertama di Surabaya, kemudian Jogja. Sekarang di Semarang,” kata Ketua Umum Masyarakat Ahli Penginderan Jauh Indonesia (MAPIN) Prof. Dewayany Sutrisno di kampus Undip di Kota Semarang, Jateng, Selasa (31/10/2017).

Menurut dia, teknologi remote sensing atau penginderaan jauh terus mengalami perkembangan sehingga perlu sinergi antarpeneliti dan ahli, termasuk para praktisi dan pengambil keputusan, agar tidak tertinggal dalam pemanfaatannya.

Itulah, kata dia, yang mendasari perlunya pertemuan ilmiah tahunan (PIT) untuk mengumpulkan para ahli penginderaan jauh agar berbagi wawasan tentang tantangan dan peluang teknologi penginderaan jauh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi.

“Negara-negara maju sudah melakukan riset dengan teknologi penginderaan jauh.Potensinya tidak hanya mengetahui potensi yang membentang di daratan, tetapi juga potensi di dasar bumi dan samudra,” kataya.

Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Prof. Hasanuddin Zainal menjelaskan bahwa lembaganya semula bernama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang informasi geospasial.

Informasi geospasial dengan kemajuan teknologi citra satelit dan penginderaan jauh, kata dia, ingin dimanfaatkan pemerintah semaksimal mungkin untuk kepentingan pembangunan nasional sesuai dengan paradigma HITS (holistik, integrtif, tematik, dan spasial).

Artinya, kata dia, harus ada pemetaan yang akurt, tersinkronisasi, harmonis, dan detail untuk bisa melihat seluruh potensi dan tantangan yang dimiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diwujudkan dalam kebijakan satu peta (one map policy).

“Misalnya, Kementerian PUPR mengajukan dana pembangunan jalan sepanjang 150 kilometer. Kalau tidak dilengkapi peta dari mana ke mana, tidak di-approve, pemerintah daerah mengajukan pencetakan sawah 1.000.000 hektare, kalau lokasinya enggak ada, tidak di-approve,” katanya.

Hasanuddin menambahkan bahwa informasi spasial tidak hanya berhenti pada kondisi di daratan, tetapi secara lebih luas mencakup wilayah laut dan dasar bumi Indonesia, seperti potensi mineral dan gas, yang terkandung di negara Indonesia yang sedemikian luas.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Undip Prof. Ambariyanto menjelaskan bahwa ilmu penginderaan jauh sangat dibutuhkan dalam banyak bidang dan kebetulan Undip memiliki dua jurusan yang sangat concern dengan pemanfaataannya, yakni geologi dan oseanografi.

“Undip kan punya Jurusan Geologi dan Oseanografi yang keduanya membutuhkan ilmu remote sensing. Selama ini, kami juga bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang dan Pemerintah Provinsi Jateng dalam pemanfaatannya,” katanya.

Ia mencontohkan kegunaan penginderaan jauh untuk menghitung luasan abrasi di Semarang dalam kurun sekian tahun yang sudah pernah dilakukan Undip bekerja sama dengan Pemkot Semarang sehingga berpengaruh pada kebijakan yang akan diambil.

Pada tahun ini, kata dia, Undip menjadi tuan rumah ICOIRS 2017-PIT MAPIN XXIV yang dihadiri ratusan ahli penginderaan jauh tak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari negara lain, seperti Amerika Serikat, Prancis, Jepang, Taiwan, Nepal, Malaysia, dan Thailand.

Setidaknya, kata dia, ada 204 abstrak dari penelitian berbagai negara tersebut yang akan dipresentasikan sehingga diharapkan bisa memberikan sumbangan keilmuan yang sangat bermanfaat bagi kepentingan nasional, khususnya dalam ilmu penginderaan jauh.

Penyelenggaraan ICOIRS 2017-PIT MAPIN XXIV itu didukung oleh Departemen Oseanografi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik Undip, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply