Warga, Selasa (27/2/2018), bergotong royong membersihkan puing-puing rumah Minah, 70, warga Dukuh Tanggulrejo, Desa Jiwan, Karangnongko, Klaten, yang ambruk. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Caption : Warga, Selasa (27/2/2018), bergotong royong membersihkan puing-puing rumah Minah, 70, warga Dukuh Tanggulrejo, Desa Jiwan, Karangnongko, Klaten, yang ambruk. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Rabu, 28 Februari 2018 18:15 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

Rumah Mbah Minah di Klaten Roboh Sebelum Bantuan Datang, Begini Kisahnya

Nenek Minah warga Klaten memilih hidup seorang diri ketimbang ikut dengan anaknya di perantauan.

Jatengpos.com, KLATEN — Rumah Minah, 70, di Dukuh Tanggulrejo, Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko, Klaten, rata dengan tanah, Kamis (22/2/2018). Nenek bertubuh kecil itu mampu berlari menyelamatkan diri sesaat sebelum rumah yang ia tempati ambruk.

Minah masih mengingat detik-detik rumahnya ambruk. Saat itu, ia berada di dalam rumahnya yang berdinding gedek berukuran 3 meter x 5 meter. Rumahnya yang sudah reyot bergoyang-goyang setelah diguyur hujan.

Bibar salat kok rasane omah gluyur-gluyur. Kula terus metu [Setelah salat kok rasanya rumah bergoyang-goyang. Saya lantas keluar],” kata Minah saat ditemui solopos.com, Selasa (27/2/2018).

Tak lama setelah keluar, rumah yang ia tempati seorang diri ambruk. Minah memutuskan berjalan kaki ke rumah keponakannya di wilayah Dukuh Tlompah untuk mencari tempat berteduh.

Selama bertahun-tahun, Minah tinggal seorang diri di rumah yang kini roboh. Suaminya, Sugimo, meninggal dunia sekitar tujuh tahun silam. Sementara, satu putranya, Jumadi, merantau.

Rumah Minah ambruk lantaran kondisinya yang sudah lapuk termakan usia. Selama ini, nenek itu tak punya biaya untuk perbaikan lantaran hidup miskin. Kebutuhan hidup seperti makan dan minum ia cukupi dari hasil berjualan buah di tepi jalan. Barang dagangan dibeli setelah mendapat modal dari hasil berutang.

Hasile ngih mboten mesti. Saget Rp25.000-Rp30.000 saben dinten. Sebagian dingge lebon sebagian dingge maem [Hasilnya tidak menentu. Bisa Rp25.000-Rp30.000 setiap hari. Sebagian untuk membayar utang sebagian untuk makan],” tutur dia.

Minah memilih tetap hidup di tanah kelahirannya meski seorang diri ketimbang mengikuti putranya yang bekerja dan tinggal di Batam. “Tekad kula, mati uripe nang daerah kene [tekad saya, mati dan hidup di daerah ini],” kata nenek itu.

Pada Selasa (27/2/2018) pagi, Bupati Klaten, Sri Mulyani, menemui Minah untuk memberikan bantuan. Bupati mengatakan bantuan yang diberikan kepada Minah yakni bantuan rehab rumah tak layak huni (RTLH) Rp10 juta. Selain itu, ada bantuan logistik dari PMI dan BPBD.

Mulyani menuturkan selain rumah Minah, RTLH lainnya juga bakal mendapat bantuan rehab tahun ini dengan nominal masing-masing Rp10 juta. Jumlah total RTLH yang direhab pada 2018 sekitar 2.500 rumah.

Camat Karangnongko, Jaka Supriyanto, mengatakan Minah merupakan salah satu penerima bantuan RTLH di wilayah Karangnongko tahun ini. Namun sebelum bantuan turun, rumahnya keburu ambruk.

Jaka menuturkan Minah menjadi salah satu warga yang kerap mendapat bantuan dari pemerintah. “Masuk dalam penerima bantuan langsung tunai. Beliau juga menerima raskin dan kartu Indonesia sehat. Memang sudah ada rencana bantuan dari pemerintah untuk perbaikan rumah. Namun, sebelum bantuan turun rumah sudah ambruk,” kata Jaka.

 

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply