Widi Septianingsih dan Misbahudin melangsungkan pernikahan di lahan proyek NYIA yang nyaris sudah ebrsih dari bangunan, Selasa (27/3/2018). (Uli febriarni/JIBI/Harian Jogja) Caption : Widi Septianingsih dan Misbahudin melangsungkan pernikahan di lahan proyek NYIA yang nyaris sudah ebrsih dari bangunan, Selasa (27/3/2018). (Uli febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 27 Maret 2018 20:40 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

BANDARA KULONPROGO
Pernikahan Penuh Haru di Lahan NYIA

Sepasang kekasih mengikat janji di lahan pembangunan bandara yang sudah dikosongkan PT Angkasa Pura.

Jatengpos.com, KULONPROGO–Suasana di salah satu sisi Desa Palihan, Kecamatan Temon nampak begitu kosong. Bangunan sudah rata tanah, tanaman dan tetumbuhan hilang dari pandangan. Seakan tak ada kehidupan, namun lantunan gending Jawa terdengar khusyuk di sana. Ada apa gerangan? Berikut laporan wartawan Harianjogja.com, Uli Febriarni.

Selain suara gamelan ala Jawa yang kental, terlihat pula tenda berlapis kain biru dan putih. Gapura dari rangkaian bleketepe laiknya sebuah resepsi pernikahan Jawa juga nampak dari kejauhan Jalan Daendels. Dari bertanya sana-sini, tersebutlah bahwa di Dusun Kragon II, Desa Palihan itu sedang dihelat sebuah pernikahan putri Widi Sumarto Sadikun.

Tanah basah dan becek, rintik gerimis juga masih terus turun di atas tanah yang sedianya menjadi lokasi pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) itu. Janur kuning masih terpasang, tetamu juga mulai berdatangan. Tak hanya tetamu yang mengenakan pakaian terbaiknya, melainkan juga sejumlah anak muda yang menyandang kemeja kotak-kotak, kaus hitam, bersarung dan bersandal jepit.

Melongok ke dalam, sang mempelai perempuan, Widi Septianingsih masih harus dipulas wajahnya agar nampak paripurna di hari pernikahannya itu. Hingga kemudian Widi dan pasangannya, Misbahudin dipertemukan untuk mengikuti prosesi akad nikah. Tepat pukul 08.00 WIB, warga yang hadir menjadi saksi kedua sejoli tersebut resmi menjadi pasangan suami istri. Kedua mempelai yang dirias dengan pakaian serba biru itu, kembali dipertemukan di teras rumah dan menjalankan ritual pernikahan adat Jawa.

Mulai dari melempar sirih, sang mempelai perempuan membasuh kaki pengantin lelaki, memecah telur, dan kembar mayang. Begitu sampai di pelaminan berhias gebyok putih dan bunga pelbagai warna, prosesi berlanjut dengan kacar kucur, saling menyuapi, dan sungkeman pada orang tua kedua mempelai. Sejak pagi hingga menyelesaikan semua prosesi, raut bahagia begitu lekat dan seakan tak pernah lari dari wajah kedua mempelai.

Seperti kebanyakan pernikahan pada umumnya, momen istimewa untuk kedua pihak keluarga itu dilanjutkan dengan penyampaian selamat datang, pasrah pangandiko dari pihak keluarga mempelai lelaki. Diikuti dengan panampi pangandiko dari pihak keluarga mempelai perempuan, diiringi kemudian doa yang disisipi dengan nasihat-nasihat bagi kedua mempelai. Makan bersama dan memberi selamat kepada mempelai menjadi agenda berikutnya.

Widi bertemu dengan pujaan hatinya saat bekerja di Jakarta. Misbahudin, lelaki 28 tahun asal Desa Penusupan, Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah itu akhirnya meminangnya, setelah menjalin kedekatan lewat kisah yang panjang. Pernikahan sederhana dengan dekorasi serta busana bernuansa biru tua, putih dan perak itu sudah disiapkan sejak lamaran yang berlangsung sekitar enam bulan lalu. Baginya, apapun yang terjadi di desanya, tak akan mengubah rencana pernikahan impian mereka. Bahkan, agenda penutupan Jalan Daendels yang telah dilangsungkan pada Senin (26/3/2018) juga tak menyurutkan niat mereka berdua untuk mengikat janji setia di tanah kelahiran Widi.

Air muka perempuan 30 tahun itu juga berubah sedikit muram kala ditanya perihal desanya yang kini akan dibangun NYIA. Dengan suara sedikit terisak, ia masih berharap pembangunan NYIA tak jadi dilakukan, kendati lahan sudah kosong.

“Tapi saya senang, banyak yang mau datang ke pernikahan dan masih mau menjalin kekeluargaan dengan kami. Semua yang pro maupun kontra [NYIA] datang,” ujarnya.

Orang tua mempelai perempuan, Widi Sumarto Sadikun mengaku, memilih untuk menggelar upacara pernikahan putrinya di rumah walaupun ada penutupan jalan. Ia juga bersyukur masih banyak tetangga yang hadir dalam upacara pernikahan putrinya tersebut walaupun ada perbedaan sikap pro dan kontra. “Yang dulu tinggalnya di sini, yang sekarang sudah pindah juga ke sini semua,” ujarnya.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply