Bangunan Pabrik Gula (PG) Colomadu pasca revitalisasi di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Selasa (20/3/2018). (M Ferri Setiawan/JIBI/SOLOPOS) Caption : Bangunan Pabrik Gula (PG) Colomadu pasca revitalisasi di De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Selasa (20/3/2018). (M Ferri Setiawan/JIBI/SOLOPOS)
Senin, 26 Maret 2018 23:15 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/SOLOPOS Karanganyar Share :

Dongkrak Industri Kreatif, Karanganyar Bakal Pangkas Pajak Hiburan Jadi 0%

Pajak hiburan Karanganyar dipangkas jadi 0%.

Jatengpos.com, KARANGANYAR—Penghargaan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk Karanganyar sebagai salah satu kabupaten kreatif pada 2017 dan pembukaan De Tjolomadoe di bekas Pabrik Gula (PG) Colomadu menjadi titik tolak industri kreatif di Karanganyar.

Penghargaan dari Bekraf yang diterima 2017 lalu adalah momentum Karanganyar mengajukan dua potensi besar dari 16 sektor industri kreatif yaitu kuliner dan seni pertunjukan. Bak gayung bersambut, De Tjolomadoe yang resmi dibuka, Sabtu (24/3/2018), digadang-gadang sebagai pusat kebudayaan baru di Soloraya. Pembukaan De Tjolomadoe ditandai dengan konser internasional Hitman David Foster and Friends.

”De Tjolomadoe oleh BUMN di-branding sebagai pusat seni dan budaya Jateng. Jadi sesuai dengan potensi wisata Karanganyar. Kami membuat MoU dengan pengelola terkait pengembangan pariwisata,” kata Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Titis Sri Jawoto saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (23/3/2018). (baca juga: Ini Penyebab Produk Industri Kreatif di Daerah Sulit Tembus Pasar Ekspor)

Bekas PG Colomadu disulap menjadi ruang publik yang bisa menampung UMKM, hall untuk konser musik, hingga berbagai kegiatan budaya lainnya.  Titis merancang pertunjukan rutin di salah satu venue di De Tjolomadoe.

”Keberadaan saling menguntungkan, BUMN dituntut memberikan pemasukan kepada negara. Di sisi lain, mereka diharapkan berkontribusi kepada negara dan masyarakat. Mereka sewakan hall besar dan medium. Di luar itu ada space untuk pembinaan dan pelestarian,” tutur dia.

Namun, upaya pengembangan industri kreatif di Karanganyar bukan tanpa kendala. Salah satu persoalan yang sempat mencuat adalah tingginya pajak hiburan seperti yang tercantum dalam Perda Nomor 6 Tahun 2010 tentang Pajak Hiburan.

Perda mengatur objek pajak, di antara tontonan film, pagelaran kesenian, musik, tari, busana, pameran, pertandingan olahraga, dan lain-lain. Tarif pajak ditetapkan 35%. Tarif pajak hiburan kesenian rakyat/tradisional 10% sedangkan pajak lain seperti pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotek, karaoke, dan lain-lain 40%.

Kabag Hukum Setda Kabupaten Karanganyahr, Zulfikar Hadid, beberapa waktu lalu menyampaikan Pemkab dan DPRD sepakat merevisi tarif pajak. Penentuan tarif diklasifikasikan berdasarkan skala lokal, nasional, dan internasional berdasarkan penampil dan kriteria lain. Zulfikar menyampaikan revisi perda pajak hiburan sudah mencapai tahap akhir.

”Pembahasan sudah dimulai Februari. Ini tinggal menunggu pengundangan. Perda ini memang krusial dibahas. Itu menjadi salah satu potensi [pendapatan dari pajak] setelah De Tjolomadoe beroperasi. De Tjolomadoe menyediakan sarana pertunjukan seni,” tutur Zulfikar.

Solopos.com mendapat bocoran tentang revisi tarif pajak retribusi. Tarif pajak hiburan untuk pagelaran kesenian, musik, tari dan atau busana, kontes kecantikan, dan lain-lain berkelas lokal/tradisional 0%, kelas nasional 10%, dan kelas internasional 20%. Titis membenarkan tarif pajak tersebut.

”Ini bentuk pembinaan dan insentif pemerintah kepada pelaku seni pertunjukan maupun industri seni pertunjukan,” ujar Titis.

Ketua Komisi B DPRD Karanganyar, Tony Hatmoko, menyebut penyesuaian tarif pajak sesuai dengan semangat pengembangan wisata seni pertunjukan di Karanganyar.

Titis menyebut De Tjolomadoe akan memberikan efek domino bagi perkembangan Colomadu seperti rumah makan hingga penginapan.

”Kawasan sekitar otomatis terdampak kalau banyak pertunjukan di situ. Cuma kelas tamu naik menjadi menengah ke atas dan orang asing.Masyarakat harus menyesuaikan diri. Kalau mau mendapatkan manfaat dari De Tjolomadoe maka harus meningkatkan performa. Pemerintah mendukung UKM. Intinya, mengindahkan lingkungan [De Tjolomadoe] tanpa mengesampingkan sekitar,” kata dia.

Asisten Perekonomian Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Karanganyar, Siti Maisyaroch, menyebut pemerintah memfasilitasi UMKM sekitar De Tjolomadoe ikut berkembang. Siti menyinggung kepemilikan lahan Pemkab Karanganyar seluas tiga hektare yang diikutkan proyek revitalisasi PG Colomadu. Imbas dari penggunaan lahan Pemkab itu adalah bagi keuntungan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Hakim, menilai eks PG Colomadu memiliki tiga keunggulan, yakni nilai sejarah, ekonomi-bisnis, dan seni budaya.

”Itu lokasi strategis. Dekat dengan Solo, Boyolali, Sukoharjo. Lalu bernilai sejarah. Itu daya tarik dari bangunan tersebut,” kata Lukman.

Lukman menyebut Colomadu dapat berkembang seperti Kecamatan Grogol, Sukoharjo yang lebih dikenal dengan Solo Baru. Tetapi, Lukman menyebutkan sejumlah prasyarat.

”Pemerintah Kabupaten Karanganyar harus total menggarap potensi itu. Posisi dekat Kota Solo, bandara, itu menguntungkan. Bisa enggak pemerintah setempat kreatif mengelola dan memanfaatkan tempat itu. [PG Colomadu] Seharusnya bisa mewarnai Karanganyar,” ujar dia.

Syarat lain adalah pemerintah harus melibatkan masyarakat saat memanfaatkan De Tjolomadoe. Salah satu bentuk pelibatan adalah mengelola potensi UMKM di sekitar De Tjolomadoe. Lukman berharap pemerintah tidak membangun mal di dalam kompleks De Tjolomadoe.

Kunci dari pengelolaan dan pemanfaatan De Tjolomadoe adalah kerja bersama pemerintah dengan masyarakat. Lukman optimistis apabila pemerintah merangkul masyarakat, De Tjolomadoe bisa menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar.

Camat Colomadu Yophy Eko Jaiwibowo memperkirakan perekonomian di sekitar eks PG Colomadu akan menggeliat. Dia mengimbau para pedagang kaki lima (PKL) yang sekarang berada di kawasan Sumur Bor depan eks PG Colomadu juga menata diri.

”Setidaknnya mereka menjaga kebersihan dan kehigienisan makanan yang mereka jual,” ujar dia.

”Saya minta agar Disperindag proaktif setidaknya mau melatih para PKL dengan berbagai kiat atau bekal agar menarik. Mungkin bisa melatih cara menghadapi konsumen yang baik, sopan santun, tata krama dan sebagainya,” papar dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply