Kondisi Sukeri, 50, warga Desa Siwalan, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, yang menderita tumor, Selasa (27/3/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Caption : Kondisi Sukeri, 50, warga Desa Siwalan, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, yang menderita tumor, Selasa (27/3/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Selasa, 27 Maret 2018 19:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KISAH TRAGIS
Wanita Ponorogo 50 Tahun Hidup dengan Tumor di Wajah

Kisah tragis, perempuan Ponorogo sudah 50 tahun menderita tumor.

Jatengpos.com, PONOROGO — Seorang wanita di Desa Siwalan, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, bernama Sukeri, 50, menderita penyakit tumor sejak masih kecil hingga saat ini. Akibat penyakit tumor itu, fungsi indra penglihatan dan pendengaran bagian kirinya tidak berfungsi sama sekali.

Saat ditemui Madiunpos.com di rumahnya, Selasa (27/3/2018) siang, Sukeri terlihat sedang mengupas singkong. Menggunakan pisau tanpa pegangan, Sukeri tampak menguasai mata pisau dan mengelupas kulit singkong.

Di tubuh perempuan yang terlihat renta ini, banyak terlihat benjolan-benjolan sebesar kelereng. Benjolan itu berada di hampir sekujur tubuhnya. Saat berjalan, Sukeriterlihat agak sedikit menyeret kakinya.

Hampir separuh dari wajah wanita yang belum menikah itu tertutup daging menggelambir ke bawah sehingga menutup mata dan pipinya. Tak hanya itu, daging yang diduga tumor itu juga membuat telinganya turun. Kondisi itu membuat pendengarannya tak berfungsi.

Namun yang paling membuat sedih, Sukeri tinggal di rumah sendirian. Ayahnya bernama Gomo sudah lama meninggal dunia. Sedangkan ibunya bernama Misinem baru tahun lalu meninggal dunia.

“Dulu saya tinggal bersama ibu. Kemudian tahun lalu ibu meninggal dunia. Jadi saya sekarang tinggal sendirian,” kata anak terakhir dari tujuh bersaudara ini.

Sebenarnya ada tiga saudaranya yang tinggal di samping rumahnya. Tetapi, mereka sudah lama tidak melihat rumah orang tua dan menjenguknya. Bahkan Sukeri mengaku hampir lupa pernah memiliki saudara.

“Saya punya saudara tiga yang rumahnya dekat sini. Mereka tidak pernah ke sini. Anak-anaknya juga ga pernah main ke sini,” kata Sukeri.

Menutup Diri

Tumor yang menghinggapi tubuhnya sejak masih bayi hingga kini membuatnya menutup diri dengan lingkungan sekitar. Dia lebih memilih menyendiri dan mandiri dengan tidak menggantungkan hidup kepada saudara-saudaranya.

Mengenai penyakit tumornya, itu terjadi sudah puluhan tahun lalu. Sukeri sampai terlupa kapan terakhir berobat untuk penyembuhan penyakitnya. Yang dia ingat tumor ini tidak bisa disembuhkan dan semakin banyak menyerang tubuhnya.

Akibat tumor ini hampir sebagian wajahnya tertutup daging yang menggelambir sehingga menutup mata dan pipinya serta merusak pendengarannya bagian kiri.

“Mata saya yang sebelah kiri tidak bisa digunakan untuk melihat. Begitu juga telinga saya. Saya hanya memanfaatkan fungsi telinga dan mata bagian kanan saja,” terang perempuan yang tidak sekolah ini.

Untuk kebutuhan makan, Sukeri mengaku mendapatkan bantuan raskin dari pemerintah sebanyak 5 kg setiap bulan. Sedangkan untuk kebutuhan lauk, terkadang ia mendapatkan bantuan dari komunitas sosial dan warga setempat.

Dia mengaku selama ini hanya memakan nasi dengan lauk tahu dan tempe. Selama 50 tahun hidup, dia mengaku belum pernah sekalipun mencicipi maupun makan telur dan daging ayam maupun sapi. Selain telur dan daging tidak diperbolehkan dimakan karena bisa memperparah tumor juga karena tidak ada uang untuk membelinya.

“Saya selama hidup belum pernah makan telur dan daging. Kalau makan saya lauknya tempe tahu. Terus sayurnya nyari di depan rumah,” ujar dia.

Saat beras habis dan bantuan belum datang, Sukeri biasanya memakan singkong rebus dan dicampur dengan sayuran. Selama ini dirinya tidak pernah bekerja karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan.

Sepeninggal ibunya, Sukeri hanya tinggal sendirian dan hanya ditemani sebuah televisi usang. Saat tidur pun, perempuan ini hanya tidur dengan alas tikar tipis di lantai plesteran. Tidak terlihat satu pun barang perabotan rumah tangga di ruang tamunya. Ruangan itu kosong melompong.

Sukeri mengaku sudah pasrah dengan kondisinya yang demikian. Ia hanya bisa bersyukur atas kehidupannya. Untuk menyambung hidup, ia hanya mengandalkan bantuan dan tegalan yang ditanami singkong dan sayuran.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply