ri Muntamah, penjual dawet Jabung Bu Sumini di Jalan Raya Mlarak-Jabung yang merupakan dawet Jabung legendaris, Selasa (27/3/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Caption : ri Muntamah, penjual dawet Jabung Bu Sumini di Jalan Raya Mlarak-Jabung yang merupakan dawet Jabung legendaris, Selasa (27/3/2018). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Rabu, 28 Maret 2018 14:30 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

KULINER PONOROGO
Dawet Jabung Legendaris di Ponorogo

Kuliner Ponorogo, Dawet Jabung Bu Sumini diklaim sebagai dawet Jabung terlama dan berdiri sejak 1950-an.

Jatengpos.com, PONOROGO — Dawet Jabung merupakan salah satu kuliner khas yang ada di Kabupaten Ponorogo. Salah satu penjual dawet Jabung yang legendaris adalah Dawet Jabung Bu Sumini.

Dawet Jabung Bu Sumini ini berada di Jalan Raya Mlarak-Jabung, tepatnya di perempatan Jabung, Kecamatan Mlarak. Dawet Jabung Bu Sumini sudah berpuluh-puluh tahun berjualan dan menyajikan minuman khas Ponorogo ini.

Saat ini pedagang dawet di wilayah Jabung ada sekitar 20 orang. Warung-warung dawet itu berjejer di sepanjang jalan tersebut.

Namun, dari puluhan warung Dawet Jabung itu, warung Dawet Jabung Bu Sumini menjadi rujukan. Hal ini karena warung Bu Sumini dianggap paling lama berdiri.

Penjual Dawet Jabung Bu Sumini, Sri Muntamah, 35, menceritakan dirinya merupakan penjual dawet generasi ketiga. Dia mengatakan Dawet Bu Sumini sudah ada sejak tahun 1950-an. Saat itu, memang banyak penjual dawet Jabung, tetapi banyak yang bertumbangan dan tidak melanjutkan berjualan. Hanya Dawet Jabung Bu Sumini yang bertahan hingga kini.

Pada awalnya, Dawet Jabung dijual dengan cara dipikul bukan di warung seperti sekarang. Namun, perkembangannya penjual dawet kemudian membuat warung untuk berjualan.

“Kalau ceritanya itu dulu banyak yang jualan dawet. Tapi yang bertahan hingga kini hanya di sini saja dan yang lain sudah tidak lanjut jualan,” kata dia saat berbincang dengan Madiunpos.com, Selasa (27/3/2018).

Muntamah menuturkan dawet Jabung sebenarnya tidak ada bedanya dengan dawet pada umumnya. Namun, perbedaannya ada di bagian bahan baku dalam pembuatan cendol. Cendol dibuat dari tepung aren sehingga lebih lembut dan kenyal. Sedangkan gulanya dibuat dari gula kelapa.

Dawet Jabung dihidangkan dari santan, gula kelapa cair, gempol, tape ketan hitam, cendol, dan air garam. Setelah dicampur barulah diberi es batu dan siap dihidangkan.

Penjual akan menyorongkan mangkuk berisi dawet yang ditumpangkan di lepek kepada pembeli. Tetapi yang perlu diingat pembeli tidak boleh mengambil mangkuk dan lepeknya. Pembeli hanya boleh mengambil mangkuknya saja.

Setiap hari, rata-rata dirinya bisa menjual 200 mangkuk dawet. Setiap porsinya dijual dengan harga Rp3.500. Menikmati dawut Jabung lebih nikmat dengan tahu goreng, pisang goreng, dan jajananan lainnya. )

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply