Satpol PP Sleman membongkar lapak pedagang Pasar Stan Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Rabu (28/3/2018). (Foto istimewa) Caption : Satpol PP Sleman membongkar lapak pedagang Pasar Stan Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Rabu (28/3/2018). (Foto istimewa)
Rabu, 28 Maret 2018 23:20 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

Lapak Pedagang Pasar Setan Dibongkar Paksa

Sejumlah lapak pegadang di Pasar Setan, Desa Maguwoharjo, Depok dibongkar paksa

Jatengpos.com, SLEMAN–Sejumlah lapak pegadang di Pasar Setan, Desa Maguwoharjo, Depok dibongkar paksa karena menggunakan trotoar dan badan jalan untuk berjualan. Selain mengganggu pejalan kaki, lapak mereka juga memicu kemacetan.

Langkah tegas untuk membongkar paksa lapak pedagang Pasar Stan dilakukan oleh Pemerintah Kecamatan Depok, pengelola Pasar Stan bersama dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sleman pada Rabu (28/3/2018). Sedikitnya ada lima lapak pedagang yang dibongkar karena tidak menaati peraturan dan kesepakatan yang telah dibuat.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban  Kecamatan Depok Aris Widiayantara mengatakan sebelum adanya pembongkaran paksa telah ada kesepakatan bersama.

Mulanya para pedagang telah diajak berdiskusi dan pada 14 Februari lalu pedagang sepakat untuk mundur tidak, lagi menggunakan badan jalan mulai 28 Februari.

“Tapi hingga saat ini kesepakatan itu tidak dijalankan. Awalnya ada tujuh kios, tapi dua kios sudah membongkar sendiri. Sisanya kami berikan tindakan tegas [dibongkar paksa],” kata dia, Rabu (28/3/2018).

Lanjutnya lagi, para pedagang juga dinilai tidak menaati aturan karena menggunakan trotoar untuk berjualan. Sedangkan bahu jalan digunakan untuk parkir kendaraan baik pembeli atupun pedagang. Akibatnya di titik tersebut terjadi kemacetan karena berdekatan dengan lampu lalu lintas.

“Harusnya untuk pejalan kaki tapi malah untuk jualan. Sudah diberi tanda dengan cat semprot batas untuk berjualan, wajib dipatuhi,” kata Aris

Pengelola Pasar Setan Kasidi mengakui memang sudah melakukan pendekatan kepada sejumlah pedagang agar mematuhi aturan yang telah disepakati. Namun memang kesepakatan tersebut tidak segera diterapkan sehingga masih saja ada pedagang yang nekat berjualan di trotoar.

Lanjutnya lagi memang bangunan asli Pasar Setan telah menjorok ke dalam dan sudah jauh dari jalan. Namun perkembangannya sudah ditambah bangunan sehingga semakin menjorok ke jalan.

“Harusnya lebih masuk ke dalam bukan menjorok ke sisi jalan. Kedepan juga ada relokasi ke sisi barat, terdata saat ini ada sekitar 280 pedagang di Pasar Setan,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang Rubinem mengaku tidak keberatan jika akan ada penataan. Pedang yang sudah 20 tahun berjualan di Pasar Setan ini menyadari lapaknya berjualan terlalu berdekatan dengan jalan raya. “Saya tidak masalah ditata lebih ke dalam karena memang bikin macet,” kata dia.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply