Orang tua dari dua siswa korban tindakan SMAN 1 Semarang yang melakukan drop out (DO) sepihak beraudiensi dengan anggota DPD asal Jaateng, Bambang Sadono, di Kota Semarang, Rabu (28/2/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Zuhdiar Laeis) Caption : Orang tua dari dua siswa korban tindakan SMAN 1 Semarang yang melakukan drop out (DO) sepihak beraudiensi dengan anggota DPD asal Jaateng, Bambang Sadono, di Kota Semarang, Rabu (28/2/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Zuhdiar Laeis)
Kamis, 1 Maret 2018 06:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PENDIDIKAN SEMARANG
Aib Diungkap Siswa Korban DO SMAN 1 Semarang

Pendidikan di Kota Semarang, Jateng heboh seiring drop out (DO) dua siswa aktivis OSIS oleh SMAN 1 Semarang.

Jatengpos.com, SEMARANG — Tindakan fisik sudah menjadi tradisi dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMAN 1 Semarang. Namun, baru pada LDK November 2017 lalu, tindakan yang selama ini dianggap penegakan disiplin itu dianggap sebagai aib—bahkan pelanggaran tata tertib sekolah—yang dianggap layak untuk men-drop out (DO) siswa.

Kenyataan itu diungkap gamblang oleh siswa aktivis OSIS yang dipaksa keluar dari sekolah di Jl. Taman Menteri Soepeno No. 1 Kota Semarang itu setelah dituduh melakukan bullying atau perundungan terhadap adik kelasnya. Siswa korban drop out paksa oleh SMAN 1 Semarang itu angkat bicara di hadapan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jateng, Bambang Sadono di Kota Semarang, Rabu (28/2/2018).

[Baca juga SMAN 1 DO 2 Siswa, Ini Alasan Bu Kepsek…]

Sebagaimana ramai diberitakan, SMAN 1 Semarang mengeluarkan paksa dua siswa kelas XII. Dua siswa yang semula hanya dipublikasikan dengan inisial AN dan AF karena dituduh sebagai anak-anak pelaku kejahatan, belakangan dipublikasikan secara terbuka dengan nama Anindya Puspita Helga Nur Fadhil dan Muhammad Afif Ashor. Mereka adalah siswa aktivis yang dilibatkan dalam LDK, kegiatan resmi OSIS SMAN 1 Semarang, November 2017 silam dan justru menjadi korban kebijakan drop out paksa sekolah mereka.

Kedua siswa yang sebelumnya belum pernah tercatat melakukan pelanggaran tata tertib sekolah itu mendadak memiliki poin pelanggaran yang dianggap SMAN 1 Semarang layak dikembalikan kepada orang tua mereka. Orang tua mereka dipanggil ke sekolah untuk diberi dua pilihan, yakni mundur dari SMAN 1 Semarang tanpa diadukan kepada polisi atau dikeluarkan dari sekolah itu dengan konsekuensi diadukan sebagai pelaku tindak pidana penganiayaan.

Merasa diperlakukan tidak adil, orang tua siswa aktivis OSIS SMAN 1 Semarang yang mendadak jadi pesakitan itu pun melawan. Perkara itu balik diadukan ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Jateng. Persoalan itu juga dibagikan kepada Bambang Sadono, mantan wartawan yang peduli dengan dunia pendidikan dan kini anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Di hadapan Bambang Sadono, Anindya mengungkapkan bahwa dirinya maupun Afif Ashor pernah mengalami perlakuan yang sama dari senior mereka ketika keduanya menjadi junior. “Setiap ada kesalahan yang dilakukan selalu ada hukuman kontak fisik, untuk melatih disiplin,” papar siswi yang aktif dalam Satgas Anti Narkoba OSIS SMA Negeri 1 Kota Semarang itu.

Namun, ditegaskannya bahwa hukuman kontak fisik bukanlah bentuk kekerasan fisik. Sebagaimana pernah dicontohkan senior yang terdahulu, ia mengaku hanya melakukan penamparan kecil terhadap juniornya. Sepemahamannya, sebagaimana ditanamkan oleh seniornya terdahulu, tindakan itu perlu dilakukan demi menegakkan disiplin.

“Saya cuma menampar begini, tidak keras!” tegas siswi itu seraya memeragakan adegannya menampar sebagaimana terekam dalam telepon seluler pengurus OSIS yang didapatkan dari razia yang dilakukan manajemen SMAN 1 Semarang menyikapi laporan adanya dugaan kekerasan di sekolah itu.

[Baca juga Dikeluarkan Gara-Gara Tuduhan Bullying, Siswi SMAN 1 ke Ombudsman]

Anindya tidak datang sendiri menghadap Bambang Sadono. Aktivis anti-narkoba di SMAN 1 Semarang itu datang dengan didampingi orang tuanya dan orang tua Afif Ashor, beserta perwakilan orang tua siswa lain yang merasa prihatin atas keputusan sekolah yang mengeluarkan dua siswa. Afif Ashor sendiri tidak bisa datang karena sakit.

Seperti diberitakan sebelumnya, LDK OSIS SMAN 1 Semarang bukan hanya menyebabkan Anindya Puspita Helga Nur Fadhil dan Muhammad Afif Ashor dikeluarkan paksa dari sekolah tempat mereka belajar selama ini. SMAN 1 Semarang juga menjatuhkan sanksi skorsing kepada tujuh siswa lain yang juga pengurus OSIS karena terlibat menangani LDK November 2017 silam.

Suwondo, orang tua Anindya menilai keputusan sekolah tidak adil, mengingat selama ini anaknya tidak pernah melakukan pelanggaran, sementara akumulasi poin pelanggaran terhadap anaknya didapatkan hanya pada kegiatan LDK itu. “Kalau dikatakan kepala sekolah setiap anak punya buku tata tertib berikut poin pelanggaran tidak betul. Saya baru dapat kemarin, sementara Pak Shodiqin [orang tua Afif Ashor] malah belum dapat,” katanya yang diamini Muhammad Shodiqin.

Ditegaskan Suwondo dan Shodiqin bahwa mereka akan terus memperjuangkan nasib putri dan putra mereka yang mendapatkan perlakuan tidak adil dari sekolah, dan setelah ini akan mengadu ke Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Jateng.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Bimbingan dan Konseling (Abkin) Prof Mungin Eddy Wibowo mengatakan setiap persoalan pasti ada penyebabnya, termasuk kasus dugaan kekerasan terhadap junior yang berakibat dua siswa dikeluarkan dari SMAN 1 Semarang. Justru yang paling penting, kata dia, menelusuri penyebab dugaan kekerasan jika memang benar terjadi dalam kegiatan LDK sebab dimungkinkan tindakan yang sama juga diperoleh dua siswa itu ketika dalam LDK menjadi junior.

[Baca juga Asosiasi Bimbingan dan Konseling Tuding SMAN 1 Tergesa-Gesa Keluarkan Siswa]

Kan mesti ada penyebabnya, apakah mungkin balas dendam karena saat jadi junior pernah diperlakukan begitu, atau penyebab lain. Ini penting sekali. Apalagi, kegiatannya juga sudah lama, sekolah harus lebih bijaksana,” katanya.

Selain itu, Kepala Program Studi Konseling Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu mengatakan sanksi mengeluarkan dari sekolah juga terlalu tergesa-gesa diambil, apalagi baru pertama melakukan pelanggaran dan sudah duduk di kelas XII yang bersiap menghadapi UN. Dia bahkan sempat mempertanyakan fungsi pembina OSIS yang ditempatkan manajemen sekolah mendampingi kegiatan resmi organisasi siswa di sekolah itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply