Bangunan yang terletak Kampung Bojongsalaman RT 003/RW 008, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, diyakini merupakan peninggalan Raja Gula Asia, Oei Thiong Ham. (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.) Caption : Bangunan yang terletak Kampung Bojongsalaman RT 003/RW 008, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, diyakini merupakan peninggalan Raja Gula Asia, Oei Thiong Ham. (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Kamis, 29 Maret 2018 17:50 WIB Imam Yuda S./JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

SEJARAH SEMARANG
Menelusuri Jejak Raja Gula Asia di Bukit Simongan

Sejarah Semarang kali ini mengulas tentang bangunan kuno di Bukit Simongan yang kono bekas kediaman Oei Tiong Ham.

Jatengpos.com, SEMARANG – Bangunan tua di kawasan perbukitan Simongan, tepatnya di  Kampung Bojongsalaman RT 003/RW 008, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang itu tampak  kotor. Cat di dinding bangunan yang sudah berdiri sekitar 100 an tahun itu juga terlihat kusam.

Meski demikian bangunan dua lantai itu masih terlihat kokoh. Bahkan, bangunan itu digunakan sekitar 11 warga menjadi tempat hunian.

Seorang warga yang menghuni bangunan itu, Suwarni, 87, mengatakan rumah bergaya arsitektur tempo dulu itu merupakan peninggalan keluarga Oei Tiong Ham, seorang pengusaha kaya keturunan Tionghoa.

Oei Tiong Ham yang terkenal dengan julukan Raja Gula Asia pada era 1900-an bahkan diyakini menghabiskan masa kecilnya di rumah itu, sebelum pindah ke istana marmer yang kini menjadi Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah (Jateng) di Jl. Kiai Saleh No. 12-14, Mugasari, Semarang.

“Saya sudah tinggal di sini sejak 1960 silam. Saat kali pertama tinggal di sini, lingkungannya belum seramai ini karena sekeliling masih kayak hutan. Sekarang, sudah jadi permukiman,” tutur Warni saat dijumpai Semarangpos.com di rumah itu, Rabu (29/3/2018).

Bangunan peninggalan Raja Gula Asia, Oei Thiong Ham, tampak tak terawat dan kini menjadi hunian warga sekitar. ((JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Bangunan peninggalan Raja Gula Asia, Oei Thiong Ham, tampak tak terawat dan kini menjadi hunian warga sekitar. ((JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Warni mengatakan dulu bangunan yang kono peninggalan Oei Thiong Ham itu digunakan sebagai asrama tentara. Bahkan, lantai kedua bangunan itu yang kini tak dihuni sempat dijadikan barak bagi anggota tentara yang masih berstatus bujangan.

Warni menempati rumah itu juga karena mengikuti mendiang suaminya yang kala itu bertugas sebagai anggota TNI. Selepas suaminya meninggal, Warni bersama anak, menantu, dan cucunya masih menghuni bangunan tersebut.

Warni menambahkan bangunan itu memang luput dari perhatian pemerintah karena status kepemilikan masih dipegang PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Pada tahun 1960-an, Presiden RI saat itu, Soekarno, menasionalisasi perusahaan dan aset milik Oei Thiong Ham dengan membentuk RNI.

Praktis seluruh kekayaan Oei Thiong Ham yang masih tersisa di Indonesia, khususnya di Semarang menjadi hak milik PT RNI.

Sementara itu, meski bangunan itu tak pernah mendapat perhatian pemerintah, beberapa kerabat Oei Tiong Ham sempat beberapa kali menyambangi rumah itu.

“Dulu beberapa tahun lalu, cicitnya [Oei Tiong Ham], perempuan masih muda pernah kemari untuk melihat-lihat ke dalam bangunan ini. Dia juga sempat naik ke lantai kedua. Kalau saya enggak berani, serem!,” ujar penghuni lain, Yanti.

Bangunan yang terletak Kampung Bojongsalaman RT 003/RW 008, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, diyakini merupakan peninggalan Raja Gula Asia, Oei Thiong Ham. (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Bangunan yang terletak Kampung Bojongsalaman RT 003/RW 008, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, diyakini merupakan peninggalan Raja Gula Asia, Oei Thiong Ham. (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Lantaran tak pernah disentuh pemerintah, sebagian rumah peninggalan Tiong Ham kini dalam kondisi keropos. Beberapa penghuni, bahkan mendirikan kandang ayam di sekitar pelataran rumah yang berlantai marmer merah.

“Walau keliahatannya rapuh tapi kayunya kokoh. Lantainya juga masih asli. Sempat mau dicongkelin tapi saya larang. Kusen jendelanya juga pernah ditawar orang Rp70 juta. Bahkan kayu atap sempat ditawar Rp2 miliar,” ujar Yanti.

Pengamat sejarah Kota Semarang, Jongki Tio, membenarkan jika bangunan tua di Bukit Simongan itu merupakan peninggalan keluarga Oei Tiong Ham. Bahkan, rumah itu diyakini merupakan milik ayah Oei Tiong Ham, yakni Oei Tjie Sien.

“Dulu ayahnya Oei Tiong Ham [Oei Tjie Sien] ke Semarang itu tidak punya apa-apa. Setelah sukses, ia membeli tanah di sekitar Bukit Simongan. Maksudnya, supaya bisa melihat bangunan Sam Poo Kong dari rumahnya,” ujar pria yang lebih berkenan dijuluki penutur itu.

Iklan Baris

    No items.


    Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/dotcom/www/jatengpos/elements/themes/jatengpos/widget-cespleng-600.php on line 32

Leave a Reply